Ketika
Rasulullah hijrah dan menetap di Madinah bersama sahabatnya, Abdullah bin
Rawahah memiliki banyak usaha dan
kegiatan dalam membela agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ia yang paling
menguasai untuk melihat strategi musuh, seperti tipu muslihat Abdullah bin Ubay
(pemimpin golongan munafik) yang tidak pernah putus asa untuk menjatuhkan islam
dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kesiagaan Abdullah bin Rawahah dapat
mengagalkan niat buruk Abdullah bin Ubay.
Abdullah
bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imri’ al-Qais berasal dari golongan Anshar
kabilah khazraj. Biasa di panggil dengan Abu Muhammad atau Abu Rawaahah. Abdullah
bin Rawahah r.a masuk islam di hadapan Rasulullah saw,dan termasuk 10 sahabat
yang di jamin masuk surga. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 165)
Abdullah
bin Rawahah r.a adalah seorang sahabat yang sangat pandai menggubah bait-bait
syair karena itu dia sangat sedih ketika turun ayat : (Asy-Syu’ara 224-226)
وَٱلشُّعَرَآءُ
يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ ٢٢٤ أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ
٢٢٥ وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا
يَفۡعَلُونَ ٢٢٦
“Dan penyair-penyair itu di ikuti oleh
orang-orang yang sesat. Tidaklah engkau melihat bahwa mereka mengembara di
setiap lembah,dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak
mengerjakan (nya)?”. (Asy-Syu’ara 224-226)
Setelah membaca
ayat tersebut, Abdullah bin Rawahah r.a berkata, “Allah telah mengetahui bahwa
aku termasuk di antara mereka.” Kemudian Allah SWT menurunkan ayat berikutnya :
إِلَّا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ
مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ
يَنقَلِبُونَ ٢٢٧
“Kecuali
orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak
mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab
puisi-puisi orang-orang kafir) ... “ (Asy-Syu’ara:227).
Membaca ayat
ini, Abdullah bin Rawahah r.a mendapatkan kembali kebahagiaannya. (Asyraf
Muhammad al-Wahsy, 2009: 175)
Di antara gubahan bait-bait syair Abdullah
bin Rawahah r.a tentang pujian kepada Rasulullah saw adalah sebagai berikut :
Di sisi kami ada Rasulullah saw. Kami
membaca kitabnya(al-Qur’an).
Maka terbit kebaikan di waktu fajar yang
menerangi.
Malam hari lembungnya menjauh dari
tempat tidur.
Apabila tempat tidur menjadi berat
dengan masalah orang-orang musyrik.
Dia datang membawa petunjuk setelah buta
mata hati kami.
Dengan petunjuk menjadi yakin segala
yang di katakan akan terjadi. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 177)
Dan
datanglah waktunya perang Muktah .. Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan
Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan
berangkat meninggalkan kota Madinah .. Ia tegak sejenak lalu berkata,
mengucapkan syairnya ;
“Yang
kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan
dan kemenangan di medan perang
Dan
setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk
lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya
aku tersungkur memenuhi harapan ....
Mati
syahid di medan perang !!!
Balatentara islam maju bergerak ke
medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang islam dari kejauhan telah dapat
melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi
sekitar dua ratus ribu orang, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka
seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya.
Orang-orang islam melihat jumlah
mereka yang sedikit, lalu terdiam, dan sebagian ada yang menyeletuk berkata :”
baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang
besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika di perintahkan
tetap maju maka kita patuhi.” Tetapi Ibnu Rawahah bagaikan datangnya siang
bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap :
“Kawan-kawan
sekalian ! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita
bukan berdasar bilangan,kekuatan atau banyaknya jumlah ... ! Kita tidak
memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan
memeluknya kita telah di muliakan Allah ... ! Ayolah kita maju ... ! salah satu
dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah .. !”
Dengan bersorak sorai kaum muslimin
yang sedikit bilangannya,tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka
berteriak : “Sungguh demi Allah, benar yang di bilang Ibnu Rawahah !
Demikianlah, pasukan terus ke
tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang
berjumlah 200.000 yang berhasil di himpun orang Romawi untuk menghadapi suatu
peperangan dahsyat yang belum ada taranya.
Kedua pasukan balatentara itu pun
bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya. Pemimpin yang
pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, di susul oleh
pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula
dengan penuh kebesaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini,
Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanan
Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan
islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang
datang membanjiri laksana air bah, yang berhasil di himpun oleh Heraklius untuk
maksud ini.
Ketika ia bertempur sebagai seorang
prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan
tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan,
yang akan di mintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat
kehebatan tentara Romawi, seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu
pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh
semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya,
sambil berseru :
“Aku
telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi
kenapa kulihat, engkau menolak surga ...
Wahai
diri, bila kau tak tewas terbunuh,kau kan pasti mati
Inilah
kematian sejati yang sejak lama kau nanti ..
Tibalah
waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika
kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati .. !”
(maksudnya,
kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
“Jika kamu berbuat seperti keduanya,
itulah kesatria sejati ...!” Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan
tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari ini adalah
saat janjinya akan ke surga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan
pedangnya,hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi lonceng
keberangkatan sudah berdenting, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang
ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid.
Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya
yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi,
dan tercapailah puncak idamannya :
“Hingga
di katakan, yaitu bila mereka melewati mayatku: Wahai prajurit perang yang di
pimpin Allah,dan benar ia telah terpimpin !”
“Benar
engkau ya Ibnu Rawahah .. ! Anda adalah seorang prajurit yang telah di pimpin
oleh Allah .. !”
Selagi
pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah saw
sedang duduk beserta para shahabat di Madinah, sambil mempercakapkan merekka.
Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang dan tenteram, Nabi terdiam,
kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan
mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh di sebabkan rasa
duka dan belas kasihan ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya
dengan pandangan haru, beliau berkata :”Panji perang di pegang oleh Zaid bin
Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid.. Kemudian di
ambil alih oleh Ja’far,dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ..
“Beliau berdiam sebentar lalu di teruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu di
pegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu,sampai
akhirnya ia pun syahid pula.”
Kemudian
Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya,menyinarkan
kegembiraan,ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga di
angkatkan ke tempatku ke surga.”
Perjalanan
mana lagi yang lebih mulia ...
Kesepakatan
mana lagi yang lebih berharga ...
Mereka
maju ke medan laga bersama-sama ...
Dan
mereka naik ke surga bersama-sama pula ...
Dan penghormatan
yang di berikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi ialah ucapan
Rasulullah saw yang berbunyi : “Mereka telah di angkatkan ke tempatku ke
surga.” (Khalid
Muhammad Khalid, 2006 :336-339)
Kesimpulan
yang dapat kita ambil dari kisah tersebut bahwasannya kita harus menjadikan
diri kita pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan hanya pemimpin yang duduk
tenang melihat bawahannya sedang kesusahan. Akan tetapi mereka maju untuk
menyelamatkan bawahannya. Mengedepankan kesejahteraan bawahannya, dan terjun
bersama-sama untuk menyelesaikan suatu masalah. Sangat susah sekali di zaman
sekarang ini mencari pemimpin yang seperti ini, pemimipin di zaman sekarang
malah bersembunyi di belakang bawahannya. Mereka takut menghadapi sesuatu,
padahal sudah jelas kelak pemimpin akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Point
yang kedua, tidak semua penyair adalah orang yang menyesatkan, selagi dia
beriman, berbuat kebajikan, dan mengingat Allah. Mereka bersyair untuk
memberikan motivasi kepada oranglain agar mereka tidak takut untuk berjuang di
jalan Allah. seperti slogan Abdullah Ibnu Rawahah r.a :
Wahai
diri ...
Jika
kau tidak gugur di medang juang ...
Kau
akan tetap akan mati ...
Walau
di atas ranjang ...
Mohon Kritik Dan Saran
BalasHapusSubhanallah. Izin share ya..
Hapussilahkan :)
Hapussubhanallah sangat brmanfaat
BalasHapusLuar biasa. Abdullah bin Rawahah adalah sahabat yang paling menguasai untuk melihat strategi musuh. Itulah manajemen dakwah yang serba kompleks menuju kebahagiaan Islam dan Kaum Muslimin.
BalasHapusmantaaab:)
BalasHapussubhanallah Abdullah bin Rawahah inspirasi umat muslim masa kini :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIbnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar... Subhanallah :)
BalasHapussemakin kita paham semakin kita lancar mengungkapkan,,,,bisa jadi cerita buat putra kita kelak
BalasHapus