Selasa, 28 April 2015

Changed My Life


Tikk ... Tikk ... Tikk ... Hujan kembali datang. 3 gadis menunggu perkuliahan dengan saling berbagi pengalaman. Ckriikk, Ckriiikk, suara salah satu gadis bertubuh mungil sedang asyik berfoto. Ya ampun, mesti mbak iki foto, “Ungkap Rahma dengan nada heran”.
            Ayoo mbak makan, aku sudah lapar, “Ucap wanita berbaju motif bunga”. Temanku satunya pun masih asyik dengan handphone. Yaaaaa maklumlah dia asyik dengerin lagu favoritnya. Sepotong ayam dan tahupun menjadi santapan di pagi hari ini. Karena laparnya, wanita manis tersebut lahap menyantap makanannya. 20 menit berlalu.
Allahu Akbar .. Allahu Akbar, terdengar suara adzan berkumandang, kami bertiga segera mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat berjama’ah. Selesai melaksanakan sholat, kami bergegas meninggalkan kos menuju gedung A fakultas dakwah dan komunikasi. Tikk.. Tik ... Tikk ... Ketika aku, Nafis, dan Fajriyah akan melangkahkan kaki keluar pagar kos ternyata hujan belum reda.  Loh gimana ini hujan? nanti aja ya berangkatnya? “Ucap wanita berkerudung coklat sambil memandangku.” Sudahlah kita lari saja, “Jawab Nafis”. Ayolah kita berangkat, tambahku kepada mereka. Ria bergegas mengendarai supra kesayangannya dan aku berjalan dengan iringan hujan menuju kelas tercinta bersama wanita berkerudung biru.
 Di samping fakultas dakwah dan komunikasi, langkahpun terhenti karena gadis berkerudung merah menarik tasku. Loh Te !!! Sudah sembuh? “tanyaku kepadanya sambil menjabat tanganya”. Alhamdulillah, do’akan saja Te  ungkapnya. Kamipun melanjutkan perjalanan menaiki tangga demi tangga hingga sampai di depan ruang D1.211.
Terlihat sosok laki-laki berkacamata asyik dengan gagetnya sedang duduk di bangku panjang depan kelas. Ku tengok kelas yang masih sepi tidak berpenghuni. Ku nyalakan lampu dan akupun memilih tempat duduk di bangku kedua dekat dinding.
Nitra mengeluarkan sebungkus roti dari tas hitam kesayangannya, dia memotong dan memberikan potongan yang lain kepada Fajriyah. Ini Fis, ini Mbak buat pean (sambil menyodorkan roti coklat itu). Sepotong berdua aja, kebanyakan kalau porsiku, “Ungkapku kepada gadis berbaju kuning.” Tanpa berfikir lama, gadis berhidung pesekpun berbagi rotinya denganku. Kami memakannya dengan bersenda gurau.
6 menit bersilam, dosen berkacamata memasuki ruangan dengan menatap 6 mahasiswa yang berada di dalam kelas. Assalamu’alaikum ... Farid sini, mana nomer ayahmu? saya mau telfon. Pria berjaket abu-abu tersebut berjalan menghampiri Prof Ali dengan langkah sedikit gugup. Ini pak, sambil memberikan handphone kepada dosen Teknik Khitobah II. Ternyata ayah pria tersebut tidak bisa di hubungi, sehingga telefon di alihkan kepada ibu pria itu.
Assalamu’alaikum Wr. Wb, bu ini saya Moh. Ali Aziz dosen dari putra ibu.  Anak ibu ini cerdas, tetapi dia tidak pernah mengumpulkan tugasnya. Setiap mengikuti matakuliah saya, dia tidak lulus. Minta tolong sama ibu, jika waktunya kuliah, ibu ingatkan suruh berangkat, “Ungkap dosen berwibawa.” Maaf pak, Farid kalau di rumah tidur, ketika ditanya jawabnya tidak ada kuliah. Tugasnya apa saja pak?,” Tanya wali dari mas Miftah Farid.” Banyak sekali bu tugasnya, teman-teman yang lain bersorak-sorak, putra ibu menyendiri. Saya ingin tahu apa permasalahannya. Mungkin sehari atau duahari izinkan Farid tidur di kos temannya untuk belajar bersama, kasihan putra ibu, teman-temannya sudah lulus tapi anak ibu belum. Saat itupun laki-laki bertas hitam menundukkan kepalanya di atas meja.
            Rid, kamu berapa kali tidak masuk? 3x Prof, jawab Pria bersepatu abu-abu dengan suara lirih. Kamu kan tau kita sudah perjanjian jika 2x tidak hadir, maka harus mengundurkan diri dari matakuliah ini. Bu, sudahlah Farid ini juga anak saya, masalah absen saya maafkan tetapi untuk tugas harus di kumpulkan. Tiba-tiba telfon berdurasi ±7 menit terputus dengan sendirinya. Pria pembawa buku hijau itupun kembali ke tempat duduknya dengan rasa penyesalan.  Hee... Kalian ini jangan diam saja, tapi tulis !! Imajinasi dan ingatan lemah, maka dari itu bulpoin tidak boleh berhenti, amati dengan seksama.“Perintah dosen berkaos kaki hitam tersebut dengan membuka absen”.
            Sudah kuliah ke Pak Faqih? belum pak, serentak mahasiswa menjawab. Sudah ada yang ikut ke radio? giliran pak, “jawab Diana dari bangku belakang”. Di meja dosen terlihat 3 tumpukan buku, dari jarak 6 meter akupun tidak bisa membaca judulnya. Akupun masih penasaran dengan buku itu, ku pertajam lagi pandanganku, tetapi tetap tidak bisa terbaca. Suasana kelas ini sangat bersahabat meskipun masih 12 mahasiswa yang datang. Profesor bersabuk hitam menyerahkan absen kepada Ratu.
            Saya sudah membaca tulisan kalian. Tulisan kalian semakin bagus, tepuk tangan untuk kalian semua. Prof, tulisan saya di kritik oleh pembaca, “Ungkap Syamsuriyanto”. Tidak apa-apa, di kritik itu hal biasa, bersyukurlah ada yang mau membaca tulisanmu, “jawab motivator berkemeja putih garis”.
            Ketika akan menjelaskan, Prof mengambil salah satu buku di antara tumpukan buku yang lain. Ada buku menarik karya John Kralik, judulnya: 365 Thamk Yous The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life. (Sambil menulis di papan, beliau membacakannya).
            Dosen tersebut berjalan mendekat ke bangku pertama dengan tersenyum. Dalam buku ini menjelaskan bagaimana penulis sukses karena setiap hari menulis terimakasih kepada orang yang berjasa kepadanya.
            Fajriyah, ayo baca judulnya sambil menunjukkan buku tersebut. Ria pun menjawab dengan suara pelan karena takut.
            Assalamu’alaikum ... Suara segerombolan mahasiswa memasuki kelas. Kamu telat Hisyam? Ayo yang telat ruku’ 300x. Ruku’ 150x, sujud 150x. Prof memerintahkan dengan menutup pintu yang terbuka. Hisyam, Hakim, Faizin, Handika, dan Mas Irfan segera menaruh tas dan melaksanakan perintah di dekat meja dosen. Saat itu, Mas Irfan memakai sandal karena hujan, tetapi untungnya dia membawa sepatu yang di masukkan ke dalam tasnya.
            Dika dan Hakim berada di posisi depan, sedangkan 3 yang lainnya di belakang. Ketika ruku’ laki-laki berkemeja abu-abu senyum-senyum karena malu terlambat. Iyaaaa ini seperti sholat berjama’ah gumamku. Ketika akan sujud, Hisyampun tertawa dan memegang sakunya untuk mengambil handephone.
            Profesor penuh semangat tersebut melanjutkan penjelasannya. Penulis buku tadi menulis surat ke dokternya. Dia mengucapkan terimakasih karena sudah merawatnya, dokter tersebut bahagia dan membalas surat itu. Dokter berkata bahwa dia pasien pertama yang memberi apresiasi seperti ini. Dokternya seneng tidak Nit?,” Tanya Dosen berjamtangan putih kepada Ninit yang duduk tepat di hadapanku”. Kemudian melontarkan pertanyaan yang sama kepada Ahmad Zain.” Senyum manusia, senyum Tuhan”.
            Nit kamu sakit?, “Tanya dosen penulis buku Terapi Sholat Bahagia. Iya prof, “jawabnya dengan nada lirih”. Sudah ke dokter? Di kasih obat apa?, sudah Prof, Mylanta. Penyakit lambung sangat erat kaitannya dengan ketegangan, “Ungkap dosen idolaku”. Tadi saya bilang ke Fathur, kalau saya datang telat karena harus cabut gigi. Dokter profesional tanya kepada saya, “Bapak stres banyak fikiran?” Kok tau, jawabku. Dokter itupun menjawab iya kelihatan dari darahnya. Saya ini trainer tapi saya tidak bisa tawakkal, akhirnya saya menyandarkan diri ke kursi sambil berdo’a: Ya Allah .. Tidak apa-apa gigi saya sakit di cabut, tetapi waktu aku memejamkan mata, datangkanlah Rasulullah untung memandang wajahku. Kemudian darah keluar lagi dan berubah menjadi darah orang yang tenang. Saya mengambil kesimpulan bahwa kesedihan mempengaruhi darah, “Penjelasan beliau sambil berdiri di depan bangku kosong”.
            Terimakasih Prof hukuman sujud sama rukuknya, luar biasa, “Ucap salah satu mahasiswa dari belakang Prof Ali. Dosenwali sayapun melanjutkan penjelasannya. Tuhan senang ketika kita menghargai jasa orang lain, ketika kita menghargai oranglain, maka Allah akan membahagiakan kita.
            Din, kamu pernah ikut lomba lari? Tidak prof karena kegemukan, jawab cewek berkerudung merah tersebut. Sontak suasana kelas menjadi ricuh karena suara tawa teman-teman. Ketika semua sudah terdiam, gadis bersepatu pich tersebut melanjutkan tertawanya.  Dalam lomba lari, teman penulis bertanya: Kamu tau gubernur tidak? Itu gubernur disitu, ayo kita mendekat. Hanya karena hal sepeleh seperti itu, John Kralik menulis ucapan terimakasih karena telah menunjukkan gubernur.
            3 menit bersilam, Riko memasuki ruangan. Ayo kamu sujud. Tanpa berfikir lama, diapun melaksanakan.
            Allah itu sifatnya “Syakur”, Prof menulis di papan dengan tinta biru menggunakan tulisan arab tanpa syakal. Artinya, Allah itu paling menghargai. Trisno, usiamu berapa? “Tanya guru besar UINSA”. 15 Prof, eh 20. Semua tertawa karena laki-laki berkemeja levis lupa usianya sendiri. Seharusnya dari 15 tahun yang lalu, kamu menulis ucapan terimakasih. 365X15 berapa? ayo samrotul hitung. Diapun langsung mengeluarkan handphone dan menjawab 5.475 Prof. Jika kamu Tris sudah nulis terimakasih maka kamu akan lebih bahagia dari hari ini. Siapa Tris yang sudah kamu beri ucapan terimakasih?, orangtua Prof jawabnya. Berarti 5.475-2= 5.473.
            Ini adalah bagian cara hidup saya, “Ungkap Dosen bersepatu ala militer sambil membawa bulpoin”. Ada B u Sri dari Taiwan mengundang saya, di facebooknya saya menulis ucapan terimakasih karena bisa di undang ke Taiwan bersama istri. Akhirnya sayapun di undang lagi, dan idul adha tahun ini saya di minta kesana, karena beliau bicara jika bukan saya, mending tidak idul adha. Subhanallah dosen sekaligus ustadz yang luar biasa !!
            Azkiya, kamu sudah mengucapkan terimakasih kepada siapa? dengan menatap beliau, akupun menjawab orangtua Prof lewat biografi yang saya tulis. Tapi di baca Az? “tanya beliau”, iya Prof setiap saya menulis pasti di baca. Subhanallah ... Luar biasa, terus siapa lagi? “Lanjut Motivator luar biasa itu”. Salah satu guru MA, dan Nafis, ketika dia habis menasehati, saya selalu ucapkan terimakasih. Ketika aku menyebut namanya, cewek berbaju biru senyum sambil menatapku. Jadi 5.475-4= 5.471. Andai sudah kamu lakukan berterimakasih kepada semua orang itu, pasti kuliah kamu tidak disini Az, seharusnya sudah di Mesir. (Akupun merasa terharu mendengar hal tersebut).
            Kim, tulis ayat yang menjelaskan tentang syukur. Diapun maju kedepan, 8 detik bersilam dia belum menulis karena sibuk mencari ayatnya di handphone. Diapun di suruh duduk kembali karena terlalu lama. Orang menafsiri syukur belum sampai medalam, ketika kita bisa menafsirkan hingga sedetail mungkin, maka Allah akan merubah hidupmu karena kamu gratitude.
            Nafis menggerakkan tangan sehingga menarik perhatian. Capek ya? Lohkan Azka juga sudah bunyi tangannya, yasudah istirahat dulu, “perintah penulis hebat tersebut dengan meletakkan ibu jarinya ke dalam saku”. Jeda ini di manfa’atkan Diana dan Ulfi untuk permisi keluar. Azka kira-kira berapa halaman kamu nulis? 7 lebih Prof jawabku. Dosen mantan dekan fakultas dakwah dan komunikasi menarik kursi, dan berpesan: Ingat jasa orang sekecil apapaun dan lupakan kesalahan orang sebesar apapun.
            Beliau bercerita, bahwa dulu beliau di suruh mengajar bahas inggris di salah satu SMA dengan gaji 35rb perbulan. Lalu beliau menikah, dan pemilik sekolah yang kebetulan orang katolik mengucapkan selamat. Ketika istri saya hamil, beliaupun menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Ini luar biasa, tidak semua orang seperti ini. Saya di angkat menjadi dosen dan belajar Bahasa inggris 3 tahun di jakarta, di SMA yang saya ajar mengadakan upacara keberangkatan saya, sedangkan yang memberangkatkan saya tidak mau tahu bahkan sama sekali tidak bertanya. Ada cerita lagi ketika saya mengundurkan diri jadi guru, saya di ajak ke TP lantai 10 sebagai ucapan salam perpisahan dan terimakasih karena telah menyumbangkan ilmu untuk anak didiknya. Prof berpesan: Kalian semua anak saya, kalian punya tugas merubah kesimpulan ini: “semakin santri, semakin berkurang rasa terimakasih. Mudah-mudahan kalian bisa merubah.
            Salah satu karyawan BCA yang pernah mengikuti praktek terapi sholat bahagia di telfon oleh penulis bukunya. karyawan tersebut merasa sngat senang dan berkata bahwa ustadz luar biasa. Dimana konsep gratitude ini di dalam sholat? “tanya Dosen keren ini kepada mahasiswanya”. Al-fatihah Prof, entah suara siapa yang menjawab. Ayo Irfan baca surat Al-fatihah sambil di hitung. Mas Irfanpun mengulang 2x bacaan tersebut karena ketika memakai basmalah jumlahnya 7, dan tanpa basmalahpun jumlahnya. Sholat tidak akan sah jika Al-Fatihah kita tidak sab’ul matsaani.
            Istri paling bahagia ketika mempunyai suami berkpribadian hamdalah, yakni tidak pelit penghargaan. Alhamdulillah adalah pesan Allah sebagai pribadi yang baik. Sekarang tulis point yang sudah kalian dapatkan. Ndak bawa laptop Prof,” Sahut Baiti”. Jangan jadikan itu sebagai penghalang. Silahkan di tulis di kertas, di Hp, dimanapun yang terpenting kalian menulis. Saya mau mendengar tulisan kalian, mulai Nit kamu dulu. Hilang Prof tulisannya belum saya save. Akhirnya Prof menyuruh Diana, dilanjutkan Baity, Handika, Mas Irfan, dan Samrotul. Sambil melanjutkan menulis, kita semuapun bergantian foto dengan Profesor Idolaku. Saat giliranku tiba, aku merasa terharu karena sebenarnya sudah lama saya ingin foto dengan beliau. Rasa bahagia ini tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata karena aku bisa berfoto dengan orang hebat seperti beliau. Semoga aku bisa sukses seperti Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
   
            Selesai bergantian berfoto, dosen teknik khitobah II inipun terus memotivasi mahasiswanya. Kalian ini unik, kenapa melongo aja dengan enaknya meninggalkan bulpoin dari genggaman, “Ungkap penulis buku ilmu pidato itu”. Hanyuuuuuuut Prof dengan ceritanya, “sahut dengan serempak”. Ya sudah kita akhiri perkuliahan hari ini. Akhirnya beliaupun meninggalkan ruangan, dan inilah perkuliahan yang luar biasa.

Sabtu, 25 April 2015

Di Balik Presenter

Selasa, 21 April 2015 ku lihat betapa semangatnya Bapak Addin Chadiri dalam menuntut ilmu, bagaimana susah payahnya perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, betapa banyak rintangan-rintangan yang di lewati. Dengan mengetahui kesungguhan dan kegigihan beliau dalam menuntut ilmu, maka sayapun sangat termotivasi. Pukul 13:00 bapak tersebut memberikan materi tentang seorang presenter, ini pertemuan kita yang kedua kalinya ya? “tanya bapak berwajah tampan tersebut”, iya pak benar sekali, “jawab mahasiswa di ruang bercat cream tersebut.
Sebenarnya media televisi membutuhkan seorang presenter yang tidak keluar dari koridor etika. Calon presenter ketika mencoba microfone jangan di tiup karena itu adalah hal yang tidak di benarkan. (Huff ... Huff ... Huff), “Suara bapak berkemeja putih memberi contoh”. Mencoba microfone yang benar  cukup di ketuk dengan tangan (tuk ... tuk ... tuk). Karena dalam microfon terdapat kain selapu tipis, jika di tiup terlalu keras akan sobek dan mempengaruhi suara microfone.
Saya membawa contoh-contoh rekaman talkshow tetapi karena Lcd tidak  bisa digunakan maka kita putar lain kali saja. Saya ingin memperlihatkan bagaimana cara menjadi presenter ataupun narasumber, dan satu lagi yang saya alami, seorang presenter harus bisa menyanyi, karena itu adalah hal yang jarang di miliki oleh seorang presenter. Loh apa perlu? apa kaitannya presenter dengan penyanyi? “ Gumamku dalam kediamanku”. Presenter dengan bernyanyi sangat erat kaitannya, kita sepakat bahwa seseorang yang bisa bernyanyi berarti mampu berucap dengan keindahan. Dia akan mengatur kata demi kata, kalimat demi kalimat, sehingga melahirkan satu lagu yang enak kita dengar.
Ada satu contoh, misalnya dalam acara inbox. Ketika sesi menebak judul lagu, lagu tersebut akan di bacakan dengan nada datar dan kita menebak judulnya kemudian kita harus menyanyikannya. Misalnya lagu: sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan (Bapak bercelana hitam memberikan contoh dengan suara yang besar), nah itu kita harus menebaknya. Ketika kita tidak mempunyai referensi, maka kita tidak akan bisa menjawab. Tetapi ketika kita mengerti, kita akan mengacungkan tangan dan menjawab bahwa judulnya: “ Sepanjang jalan kenangan,” coba anda nyanyikan: sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan ( suara saya, Nitra dan Baity menyanyikan lagu tersebut). Nah ini adalah salah satu contoh yang simple. Kaitannya dengan presenter tadi, kalau kita tidak bernyanyi, maka kita akan berbeda dengan presenter yang bisa bernyanyi ketika perform, hal itu sudah saya rasakan. Ada teman 1 profesi dan kebetulan dia junior saya, sangat di sayangkan sekali dia tidak bernyanyi padahal dia sangat terkenal. Berbicara pastilah ada naik turunnya nada, kalau kita berbicara : saudara pemirsa, selamat pagi, selamat berjumpa lagi dengan saya ( Bapak berkaos kaki hitam memberi contoh dengan nada tanpa semangat), sontak kita semua terbahak-bahak. Itu tidak enak di dengar, berbeda ketika kita berbicara dengan nada yang baik. Orang yang mendengar akan menerima apa yang kita sampaikan.
Pesan saya, jangan ada mahasiswa dari fakultas dakwah, yang pernah menerima ilmu ini berbicara dengan “Lion Style”. misalnya: saudara pemirsa ee.. Selamat berjumpa lagi ee.. Dalam acara ee.. itu hindarkan. Cara menanggulanginya adalah dengan menarik kalimat terakhir menjadi agak panjang. Di saat itu otak kita berputar dan mulut menyiapkan apa yang akan kita ucapkan. Ketika kita memiliki kebiasaan lion style, berarti otak kita sedang tidak fokus dengan sesuatu yang akan di sampaikan. Mungkin semua yang ada disini tidak dapat berbicara dengan lancar. Entah karena gangguan pada rongga mulut, sturuktur gigi atau lain sebagainya. Oleh karena itu kita semua tidak sama. Tidak ada orang yang bertutur kata sama persis antara satu dengan yang lainnya, karena nada dan pemenggalan kata setiap orang berbeda.
Terkadang ada orang yang tidak membuka mulut, tetapi artikulasinya sangat jelas. Kalau kita sudah membuka mulut tetapi artikulasi tidak jelas, nah ini yang menjadi suatu permasalahan. Mungkin ada kendala, oleh karena itu banyaklah berlatih A-I-U-E-O, A-I-U-E-O.  Selain itu berbicaralah yang keras, kalian bisa berlatih dengan pergi ke kenjeran tetapi dengan niat yang positif, atau yang lebih bagus pergilah ke tanjung kodok. Di tengah gemuruh ombak anda membaca naskah dengan jarak 100 meter dari teman anda. Itu adalah salah satu cara untuk melonggarkan pita suara.  Ketika saya mempunyai waktu luang, saya pergi karaoke 2 jam, ini bukanlah hal yang negatif tetapi ini merupakan kebutuhan bagi saya. Disana saya bernyanyi sendiri dengan menyanyikan lagu bernada tinggi, setelah keluar dari tempat karaoke, suara sayapun serak, tetapi ketika sembuh, suara saya akan meningkat 1 oktaf. “Assalamu’alaikum, permisi pak mau mengembalikan laptop”, suara wanita bebrbaju biru dari luar ruangan memasuki kelas. “Wa alaikum salam, silahkan”. Akupun mengambil laptop tersebut karena kuliah siang itu dengan duduk melingkar dan saya berada tepat di belakang pintu.
Saya sudah kehilangan suara selama 5 bulan ini, tetapi alhamdulillah sudah perlahan sembuh meski belum pulih seperti semula. Tetapi kemarin malam sabtu, saya menjadi MC presiden di masjid agung dalam acara harlah PMII dan alhamdulillah suara saya bisa keluar. Krika saya sudah kembali kerumah, suara sayapun kembali serak. Besok tanggal 24 ada acara dokter bedah, tanggal 25 menjadi MC manten, ya Wallahu A’lam. “Kriiikkkkkkk” ..  Suara pintu terbuka, sayapun berdiri menutupnya, dari jendela pintu terlihat laki-laki berjaket abu-abu dan berkemeja merah melihat ke arah kelas saya. Itu Prof Ali? Ngapain? “Tanya mereka dengan herannya”, bukan, ini Pak Addin presenter terkenal, “Jawabku kepada mereka”. Pak Prof mana? “Tambahnya kepadaku”, tadi turun ke bawah, “Ungkapku”.
Kita harus pandai mensiasati karakter microfone, kita harus tau jarak antara mulut dengan microfone. Kita harus mempunyai kepekaan yang tinggi. Ketika microfone terlalu dekat, maka pendengar tidak akan dapat mendengar suara kita dengan baik. Kita sebagai calon presenter harus mengetahui hal itu supaya modulasi suara dapat keluar dengan enak. Saya sedang mengadakan seleksi calon presenter untuk bulan ramadhan nanti. Nah sayang jika kita mencari presenter untuk televisi tetapi fisik juga tidak memungkinkan. Allah sudah memberikan nikmat kepada kita, tetapi untuk calon presenter televisi, wajah harus memenuhi syarat.  Kita akan sepakat bahwa seseorang yang cacat fisik tidak memungkinkan untuk tampil di televisi menjadi presenter apalagi cacat itu berada di wajah, karena itu dapat menganggu konsentrasi pemirsa. Misalnya mata yang satu sipit, satunya belo. Ketika berbicara mulutnya kesamping, maka tidak akan di terima menjadi presenter televisi. Ketika menjadi seorang presenter, kita harus konsisten. Ketika hari ini kita tampil maksimal, maka besok jangan sampai kita mnurun.
Untuk anak perempuan, tidak perlu memaksakan agar suaranya menjadi ngebas/besar. Akan tetapi bagi laki-laki hal ini akan menjadi sangat ideal, ketika suara megah itu dapat di miliki. Jangan sampai ada laki-lkai di televisi seorang presenter tampan, gagah, tetapi suaranya seperti wanita. Idealnya bagi cowok memang bersuara keras, dan untuk cewek jaga keaslian suara dan hanya saja olah dengan sebaik mungkin. Berlatihlah pernapasan perut dengan cara menarik udara dari hidung, dan keluarkan perlahan dari mulut. Teknik berbicara yang baik adalah yang di olah dengan sebaik mungkin, bukan yang di buat-buat.  Presenter juga harus membiasakan diri berpakain rapi, jangan ragu untuk menatap camera. Ku toleh ke arah pintu, karena terlihat ada seorang cewek berbaju biru memanggilku, sini Az, “ucapnya.” Akupun permisi keluar untuk menemuinya, ada apa kak?, “tanyaku kepada cewek berkerudung hitam itu”, tolong ya nanti kalau ketemu jaket hitam di kelas ini, sms aku. Itu jaket kenangan SMA, aku sedih kalau kehilangan. Oke kak nanti kalai ketemu aku sms,” jawabku untuk menenangkannya”. Makasih Azka, “ucapnya.” Aku kembali memasuki ruang D1.211 untuk meneruskan mengikuti perkuliahan.
Bapak bersabuk hitam tersebut menambah penjelasannya, Tak akan pernah ada dua orang yang dapat menuturkan satu suara atau bunyi bahasa secara sama persis. Perbedaan itu terjadi oleh beberapa hal : bahasa lokal yang berkembang di sekitar penuturnya, lingkungan sosialnya (pendidikan, pekerjaan, atau aktivitas) dan kelebihan atau kekurangan seseorang dalam bertutur.
Untuk mencapai maksud kebahasaan diperlukan adanya standar penuturan. Standar itu sangat berguna bagi masyarakat dalam hal:
- kemudahan menuturkan, kemudahan berkomunikasi
- membedakan setiap tuturan yang bersifat lokal
- menyesuaikan diri.
Tidak semua standar penuturan dapat diberlakukan di semua wilayah. Karenanya, standar pengucapan kedaerahan akan tetap ada, sementara itu standar nasional terus diupayakan untuk dapat semakin dapat digunakan menjadi pegangan. Berbahasa Internasional atau berbahasa IndonesIa dengan penuturan daerah tertentu tidak ditabukan. Namun, bagi seorang penyiar radio dan televisi atau seorang pembawa acara (MC, Master of Ceremony) hal itu akan tidak menghasilkan komunikasi secara cepat, baik dan benar.
Pada diri orang per orang manusia terdapat gaya penuturan yang sifatnya sangat Individual. Ada yang sangat kalem, sedang-sedang saja atau yang terkesan berteriak. Ada yang sangat terdengar akrab dan lembut, tapi ada pula yang mirip pidato formal.
Pengetahuan yang mempelajari tuturan itu dikenal sebagai fonetik, yang intinya merupakan pemahaman ke arah cara penuturan bunyi bahasa secara tepat, baik dan benar. Dalam hal-hal tertentu akan dibicarakan standar-standar baku. Tetapi harus diingat standar penuturan bukan standar gaya pengungkapan. Karena gaya merupakan kekayaan dan pesona pribadi seseorang dalam bertutur kata. Dalam dunia kepenyiaran dan pembawa acara hal itu merupakan keunggulan dan daya tarik, yang secara singkat bisa disebut 'personality'.
Dapat bertutur dengan baik menjadi syarat utama bagi seorang penyiar dan pembawa acara. Yang menjadi pernyataan : bagaimana tuturan yang baik Itu? Dan kebalikannya, yang jelek itu seperti apa?
Tuturan yang baik merupakan cara berbicara seseorang yang terdengar jelas dan dapat dimengerti bagi kebanyakan orang. Dengan begitu, maka tuturan yang sulit dimengerti oleh khalayak merupakan tuturan yang jelek. Ketidak mengertian itu bisa ditimbulkan oleh :
- komat-kamit yang menghasilkan tuturan seperti omelan
- Ketidak tepatan menyuarakan bunyi bahasa tertentu.
Tuturan yang baik juga terkait dengan cara seseorang yang mencoba untuk merubah aksen tuturan agar dapat dengan aksen tutur khalayaknya. Lewat pendekatan ini biasanya seseorang penutur berhasil berkomunikasi. Tetapi, bila aksen tutur antara pembicara dengan pendengarnya sudah sama, namun si penutur mencoba berkomunikasi dengan perubahan-perubahan yang dipaksakan maka tuturan itu jelek juga adanya.
Demikian halnya dengan dialek. Secara hakiki dialek bisa bermuka dua: baik dan jelek, tidak mudah bagi seseorang penyiar atau pembawa acara untuk tampil dengan dialek tertentu secara tepat. Yang seringkali terdengar malah kesan lucunya. Jadi untuk menciptakan suasana humoris dialek bisa dimanfaatkan. Dalam hal penampilan yang formal seseorang hams benar-benar mampu bertutur dengan aneka dialek secara benar, apabila memang khalayaknya menuntut standar penuturan dialek tertentu.
Tuturan alami seringkali tak sejalan dengan tuturan standar. Dalam hal sepertI ini baik buruknya penuturan sangat bergantung kepada khalayak pendengarnya.
Selain jelas dan dapat dimengerti, tuturan yang baik dari penyiar radio atau televisi dan pembawa acara harus enak didengar. Karena enak tidaknya tuturan seseorang sangat bergantung kepada modal suara yang dimilikinya, maka secara material tak dapat diajarkan. Tambahan lagi, enak atau tidaknya penuturan bersifat subyektif. Apa yang dikatak enak oleh seseorang bisa saja dianggap tak enak oleh lainnya. Yang dapat dilatihkan adalah pemilihan standar penyuaraan dan gaya penyajiannya. Penggabungan ke dua aspek ini bukan tidak mungkin akan melahirkan tuturan yang nyaman bagi indera pendengar atau pemirsanya.
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
I.   Problematika Kualitas Suara
Penyiar atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah semestinya karakter itu merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara yang lalu terdengar kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya sudah diketahui maka perlu dicari jalan keluarnya.
a.  Suara parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka penyebabnya ada 2 :
-    Gejala gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
-    Pengucapan suara yang berlebih-lebihan, misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya beberapa alat ucap menjadi tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa yang enak. Untuk mengatasinya diperlukan istirahat.
b. Suara tipis
     Suara tipis yang terdengar lemah biasanya disebabkan oleh mekanisme penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan pembiasaan penyuaraan secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat lemahnya suara ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya olah alat ucap mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan menutup hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara kuat-kuat.karena, bisa jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di hidung.
c. Suara pecah
Bayangkan seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang terjadi suaranya bakal pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa. Dan tidak bermelodi sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik pernapasan yang benar, penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan ditargetkan untuk kesan tertentu.
2.   Problematika Penyuaraan
a.    Monoton
Kegagalan untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan tuturan yang monoton. Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan tinggi rendahnya cara penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis. Seringkali gaya monoton ini akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi lain tuturan seperti ini akan menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang cenderung monoton perlu memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b.    Miskin Nada
Beberapa orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu ke itu juga. Kalau tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar adalah ketidakwajaran. Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak menghasilkan rnakna apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan ketahuan aslinya sedikit merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan nada dasar yang mampu disuarakannya.
c.    Singsong
Gaya ini hanya layak bagi penyiar "disc jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi tuturan. Tempo yang tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan bagian dari ciri singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak bernuansa DJ, maka sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya tuturan dengan rentang nada yang wajar saja.
d.    Pola Akhiran
Tak sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian akhir sebuah kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama sekali dihilangkan.
e.    Menderu
Ada penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu dengan memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya yang dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh saja, tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3.   Problematika Penapasan
       Pemapasan yang keliru akan melahirkan bunyi tuturan yang kurang enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan bernapas dengan dada ketika siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi problema :

a.         Suara berdesah napas

Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe pastikan tak mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati suaranya secara detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah membentuk diri kendala seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu tak dapat dihilangkan sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan udara dari dada atau diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak teratasi maka diperlukan terapi medis.
b.      Suara tanpa daya

Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan pada otot-otot di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam konsep tujuan penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran (atau siapa audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan pemapasan diafrakma untuk mengatasinya.
Sesuaikan ekspresi wajah dengan apa yang di bicarakan. Sangat tidak etis ketika kita dalam keadaan berduka, tetapi wajah kita tersenyum bahagia. Presenter harus memperluas sayap keluar selama itu adalah hal yang positif, artinya presenter harus mempunyai banyak pengalaman, wawasan, referensi darimanapun datangnta, sehingga dapat terbentuk suatu kepercayaan ketika akan menyampaikan suatu gagasan. Gunakan bahasa yang sederhana. Ingat gunakan tutur kata yang baik agar pendengar masuk dalam persuasi kita dan menerima apa yang kita sampaikan. Seorang presenter tidak boleh over confidence. Hal itu akan menghancurkan diri kita sendiri. Inilah penjelasan dari Bapak pemakai akik biru tersebut.
Ayo sekarang kita berlatih menjadi presenter, silahkan maju kedepan. Di awalai dari Diana Cholidah, wanita tersebut memang banyak senyum, sehingga waktu berlatih menjadi presenterpun dia senyum. Satu per satu di suruh memberi komentar kepada wanita berbaju biru tersebut, mulai dari saya, Artikulasinya harus di latih lagi, “Ungkapku kepadanya”, nah benar, tadi waktu dia salam kan saya suruh berhenti, itu karena mulutnya kurang mengo, “Tambah bapak bersabuk hitam tersebut”. Dilanjut komentar lain, ada yang mengatakan bahwa wanita berkulit langsat tersebut kurang fokus, dan banyak senyum.
Selanjutnya mulai dari pojok. Wah aku maju !! Haduhh nderedek rek, Ndak usah pakek Microfone ya? “Ucapku kepada teman-teman”. Yaa harus pakek, “jawab mereka dengan serempak”. Okelah di tengah aku berlatih ternyata Prof Ali memasuki ruangan itu, jantungku semakin berdetak kencang. Selesai mencoba, bapak Addin langsung memberikan komentar bahwa saya sudah siap, fokus, berani menatap audien, hanya saja vokal saya kurang besar. Hahahahaha suaranya kecil seperti anaknya pak, “Teriak Hisyam dari arah belakang”.  Kemudia di lanjut oleh Nafisatul Maulidah, Fajriyah Rahma Dewi, Baity Rahmawati, Samrotul Jannah, ketika gadis cantik ini tampil kedepan dia terdiam di tengah-tengah berlatih. Aku ngeblank, hii .. Aku malu ungkapnya. Kami semuapun tertawa melihat kelucuan gadis itu. Latihanpun tidak selesai sampai disini, akan tetapi terus berlanjut hingga satu kelas dapat mencoba menjadi seorang presenter.
Ternyata orang yang banyak pengalaman itu hebat sekali, bisa berbagi ilmu kepada kita semua, “Gumamku dalam lamunan.” Menorehkan pengetahuan, ibarat menghidupkan dunia yang redup. Membiarkannya tanpa pengaplikasian ibarat dunia mati dalam genggaman. Mayoritas orang paham dengan teori yang pernah di dapatkan, namun minimal orang mempraktikkan dalam keseharian. Seolah semua seperti hembusan angin, sekejap dan berlalu. Ketika angin kembali menghampiri sesuatu yang pernah di dapat akan di ingat sedetik secepat angin yang memberikan kesejukan dalam diri seseorang.  Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Butuh ilmu untuk menjalani hidup. Entah itu ilmu Agama atau ilmu pengetahuan lainnya. ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan utama.
Era Modernisasi memberikan perubahan signifikan terhadap perilaku dan sikap individu. Kita apresiasi ketika tersirat suatu perubahan positif, di sisi lain hati merasa teriris ketika yang tampak oleh kasat mata adalah hal yang negatif dan sangat bertolak belakang dengan norma . Ketika hati memiliki kemantapan maka akan terukur sejauh mana pengaruh keyakinan agama terhadap sikap dan tingkahlaku seseorang (berfikir, bersikap, dan bereaksi). Sikap  keagamaan merupakan integrasi antara pengetahuan agama, perasaan serta tindak keagamaan seseorang. Meskipun tingkah laku terbentuk karena faktor lingkungan, namun faktor individu ikut menentukan.
Di saat mereka mengetahui bahwa apa yang di lakukan bertentangan dengan hati nurani, mereka dengan sendirinya akan meninggalkan hal tersebut. Dalam hatinya terdapat lentera yang menerangi, itulah lentera keimanan. Namun, di saat kita memilih untuk tetap melakukan hal-hal yang menyimpang berarti kita berpegang teguh pada nafsu, meyakini yang bathil sebagai kebenaran
Setiap orang harus memiliki sikap selektif dan analitik, mampu menggali setiap informasi yang di dapat serta mampu menganalisis suatu hal yang akan mereka lakukan. Semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas. Namun bagi mereka yang mempunyai pengalaman sedikit dan sempit, ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan akan selalu dihadapkan pada hambatan. Di saat kita acuh untuk berbagi ilmu, maka kita telah mengubur dunia dalam genggaman.

Keluar dari ruang dengan 2 lampu yang menyala itu, aku bercanda dengan segerombolan teman di depan. Niat melangkahkan kaki pulang menuju kos, ternyata hujan datang. Akupun menunggu hujan reda. Ku lihat jam yang melingkar di tanganku, tepat 16:00 Nitra, Nafis, Yunita dan saya melaksanakan sholat ashar di gedung B fakultas Dakwah dan Komunikasi. Uuuuuhh ternyata antrian kamar mandi panjang sekali, sehingga hal ini menguji kesabaran kita. Selesai melaksanakan sholat, kami berempatpun kembali menuju gedung A dan segera pulang di temani gerimis.

Minggu, 19 April 2015

Mesin Usil Becung



Allah berfirman QS: Adz Dzariyat ayat 56:
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS. 51:56)
Dalam islam tujuan pendidikan identik dengan tujuan hidup (penciptaan) manusia. Menempatkan ibadah sebagai tujuan hidup mengandung arti bahwa kita menyerahkan penilaian semua gerak dan kiprah ibadah kita hanya kepada Allah SWT.
Manusia adalah makhluk sempurna, karena pada nyatanya memang manusia adalah makhuk yang diciptakan oleh Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At-Tiin:
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin 95 : 1-8)
Manusia diciptakan dengan berbagai macam bentuk, berbagai macam pikiran dan lain sebagainya. Akal dapat digunakan untuk berpikir dan membedakan mana yang baik dan yang buruk. Manusia sebagai insan kamil haruslah mempunyai kepribadian dan ahlak yang baik. Kesempurnaan manusia terletak pada akalnya, akal ini hanya diberikan kepada manusia saja yang menjadikan manusia menjadi lebih unggul dari makhluk lain yang memiliki keunggulan.
Dengan akalnya, manusia bisa merancang atau membuat apa saja yang melebihi keunggulan dari berbagai makhluk lain. Jika manusia dapat menggunakan akalnya dengan baik, tentu manusia akan menjadi manusia yang mulia, namun sebaliknya jika potensi akal tersebut tidak digunakan atau digunakan dalam hal buruk tentu manusia akan menjadi manusia yang hina, bahkan akan lebih hina dari makhluk lainnya.  
Jaga diri kamu baik-baik, ”inilah ucapan ibu di saat aku pergi menimba ilmu, sederhana dari wujud cintanya.” Walaupun nyawa ku pertaruhkan untuk orangtuaku, itupun belum cukup untuk membayar semua jasa mereka. Mungkin dengan tidak sengaja saya pernah menyakiti hati mereka, namun cinta mereka tidak pernah pudar. Mereka tidak kecewa dan tidak merasa sakit hati, jauh di dalam lubuk hati, saya sangat mencintai keluarga saya.
Sementara itu sang ayah sebagai kepala keluarga juga harus mampu menjadi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik. Kedekatan dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Perjalanan ini mengurai kisah kehidupan, menorehkan cerita tentang  makna sebuah pengabdian serta mengharapkan sebuah Kebahagian. Kurakitkan impian-impian yang indah dalam tidur saya di malam yang sunyi. Terbaring lelap perempuan di didipan yang sederhana dengan sudut mata yang terpejam seolah-olah mencoba mencari tahu mimpi indahnya. Dingin malam menjaga tidurku yang terlelap dari kelelahan, sang fajar pun dengan cepat begerak meninggalkanku, tentu disambut hangat oleh matahari siang hari, aura akan panasnya bagaikan merobek kulitku. Belajar yang rajin, jadilah orang yang bisa bermanfa’at bagi orang lain,”teringat ucapan ibu yang selalu memotivasiku.”
Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Butuh ilmu untuk menjalani hidup. Entah itu ilmu Agama atau ilmu pengetahuan lainnya. ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan utama. Dalam menuntut ilmu kita sangat membutuhkan motivasi ketika penyakit kemalasan dan kebosanan  menimpa, oleh karena itu kita perlu mengetahui perjalanan orang yang telah sukses, betapa semangatnya mereka dalam menuntut ilmu, bagaimana susah payahnya perjalanan mereka dalam menuntut ilmu, betapa berat cobaan-cobaan yang mereka hadapi, betapa banyak rintangan-rintangan yang mereka lewati. Dengan mengetahui kesungguhan dan kegigihan mereka dalam menuntut ilmu kita akan termotivasi. Begitupula ketika kejenuhan, kebosanan, dan kemalasan menghantui kita, maka dengan mengingat perjalanan mereka, semangat dan kesungguhan kita tumbuh dan hidup kembali.
“Ah ... sudahlah, kalau memang mau sukses aku harus sungguh-sungguh” ungkapku dalam hati sambil menghentikan lamunan yang dari tadi membawaku entah kemana, kutenteng tas yang berisi alat tulis yang hendak ku bawa untuk mengikuti mata kuliah teknik khitobah II. Ku langkahkan kakiku menuju ruang dekat tangga bersama Nafisa, wanita berjubah hijau.
“Assalamu’alaikum ... “ Ku ucapkan salam meskipun dari bilik jendela ku tengok kelas ini masih kosong tidak berpenghuni. Akupun menunggu di depan kelas bersama wanita berhidung pesek itu. 8 menit bersilam, datang segerombolan teman seperjuangan dan langsung memasuki kelas. Tepat pukul 12:20 datanglah dosen berompi abu-abu yang membuatku berlari memasuki ruang dengan 2 Ac itu.
Ku pilih tempat duduk dekat dinding di baris kedua, ku buka tas coklat yang selalu menemani hari-hariku, ku ambil buku kecil yang selalu terhiasi oleh tintaku. “Ini saya bawa 10 buku, silahkan yang mau beli.” Ucap motivator itu. Pak, bayarnya menyusul ya?, “ Teriak mahasiswa di bangku pojok kiri baris pertama.” Iya bawa saja, “ungkap Bapak berkacamata tersebut.”
Bagian otak manusia terdiri beberapa bagian yang biasa kita sebut mesin kecerdasan. Kiri atas adalah tipe thingking, orang tipe ini tidak romantis, suka belajar sendiri, berbicara berdasarkan logika, pemikir serius dan terlalu tegang. Kedua, kiri bawah atau sensing, kebanyakan tipe ini adalah orang yang sangat menyukai hafalan, ulet, memori kuat akan tetapi susah untuk berfikir, dan selalu belajar dengan menggunakan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Ketiga, kanan atas (intuiting), orang seperti ini memiliki imajinasi yang liar, usil, keratif, tidak menyukai kerjaan yang rutinitas, tidak suka di atur. Ke empat, kanan bawah yakni feeling, orang tipe ini adalah orang yang sensitif, belajar dengan diskusi, selalu melibatkan perasaan dan emosi, banyak bicara, menyukai story telling, akan tetapi ketika mengambil keputusan dia agak lama. Kebanyakan motivator adalah orang type ini. Terakhir otak tengah (insting), tipe ini adalah orang yang serba bisa. “Penjelasan dari motivator berkulit coklat gelap itu.” Oleh karena itu fokuslah kepada kelebihan yang kamu punya agar kecerdasan kamu di atas rata-rata, “nasihat dari motivator bercelana hitam.”
Cara berfikir tersebut mempengaruhi gaya komunikasi seseorang. Di antara gaya komunikasi:
1)      Visual
Ciri-ciri: Pilihan kata yang di bicarakan mengandung unsur melihat, misal kata “tampaknya”. Berpenampilan rapi, enak di pandang, kalau berbicara agak cepat, mengambil keputusan berdasarkan data dan gambar, lebih suka membaca.
2)      Auditori
Ciri-ciri: Unsur bicara mengandung kata “saya dengar”. Kalau berbicara seperti membaca puisi, suka ngomel-ngomel sendiri, suka bersenandung, terkadang memelihara burung karena suaranya terdengar merdu, mengambil keputusan berdasarkan referensi.
3)      Kinestetik
Ciri-ciri: Pembicaraannya mewakili gerak dan perasaan, berbicara cenderung lambat, penampilan tidak begitu di perhatikan, dia mengambil keputusan berdasarkan pembuktiannya sendiri.
Orang thinking cenderung memiliki gaya komunikasi visual, dan cenderung dengan tahta. Sensing termasuk visual dan cenderung dengan harta, Intuiting cenderung kepada kata, Feeling memiliki gaya komunikasi auditori terkadang kinesteti dan cenderung dengan cinta, yang terakhir insting yang lebih kepada bahagia serta memiliki komunikasi auditori, visual, ataupun kinesteti. Nah kan kalian sudah ajaib sekarang, bisa mengetahui dan meraba bagaimana gaya komunikasi dan pemikiran teman kalian sendiri? “Tanya motivator dengan berdiri di baris pertama.”
            Pean tuh feeling mb.” Ucap cewek yang berada di samping kiri saya.” Hahahahaa Auditori “ Sahut cewek berkerudung kuning depan tempat dudukku.” Kan pean suka ngomel-ngomel sendiri, “Tambah cewek berkulit kuning langsat tersebut.” Ih ... Apaan sii kalian ini? “ungkapku dengan nada agak malu.” Merekapun terus menertawakanku yang suka berbicara sendiri dan bersenandung. Tidak lama kami bercanda, Silahkan jika ada yang mau bertanya? “suara menggelegar dari motivator bersepatu hitam membuyarkan tawa kami.”
Mentor FM Plus menceritakan orang Madura yang mengundang motivator tersebut untuk mengisi seminar di Madura, saking cerdasnya orang Madura sehingga saya ini dijemput oleh panitia seminar dengan menggunakan mobil ambulan, “Ungkap motivator handal itu.” Kata sopirnya biar cepet sampainya pak, jadi lampu ambulancenya saya nyalain juga. Loh ini kan tidak ada mayatnya?”Tanya motivator itu kepada sopir Ambulance,” nah kita kan calon mayit pak !! Sontak teriakan anak kelas Retorika membuat suasana di kelas menjadi hidup, dan saling menertawakan anak Madura yang berada di dalam kelas. Bapak Nasrul Faqih Syarif dalam menyampaikan materi sangat luar biasa di tamabah dengan kemampuannya mengekspresikan sesuatu yang di ceritakan. Sosok yang luar biasa !!

            Untuk lebih lengkapnya lagi, silahkan baca di buku ini “Kiat Menjadi Dai Sukses”, ungkap Bapak Faqih. Ku baca perlahan buku ini yang berisi:[1]
Intuiting (I) untuk belahan otak kanan atas: Kreatif, cara bekerjanya variatif, terbiasa solutif, pandai dalam mencipta produk, mencari pola, mengandalkan intuisi, orientasi kerja ide dan kreativitas, peran initiator, ekspektasi creating, kunci suksesnya mengkapitalisasi aset.
Feeling (F) untuk belahan otak kanan bawah: Empatik, cara bekerjanya bersama, terbiasa persuasif, pandai dalam membangun kerja sama, mencari cerita, mengandalkan hubungan, orientasi kerja orang dan hubungan, peran supporter, ekspektasi leading, kunci suksesnya menempa orang,
Instinct (In) untuk bagian otak tengah: Altruis, cara bekerjanya spontan, terbiasa responsif, pandai dalam hal-hal yang lebih taktis, mencari ringkasan, mengandalkan kesigapan, orientasi kerja peran dan pelibatan, peran partner, ekspektasi contributing, memperlancar hubungan.
Sobat, cara Anda berkomunikasi dan memfasilitasi sebuah pelatihan akan banyak terpengaruh oleh mesin kecerdasan dominan Anda!
“SENSING” Bicara pengalaman fokus pada fakta pragmatis  
“THINKING” Sistematis, kuat pada analisis dan logika, Mensistematiskan proses, Problem solving, management, metode diskusi, dan simulasi
“INTUITING” Bicara kemungkinan fokus pada solusi imaginatif, gagasan baru, perubahan, kreativitas.
“FEELING” story telling, menyentuh hati, renungan, berurai air mata, inspirasional, bombastis, leadership, metode ceramah.
Memahami dan Mengenal Gaya Komunikasi Anda Sobat, Ada tiga gaya komunikasi manusia ketika mereka menyerap informasi atau pengetahuan. Dalam dunia pendidikan modern sekarang dikenal dengan istilah modalitas belajar VAK. Apa itu VAK?
Tipe Visual: Mereka akan lebih mudah menyerap informasi atau pengetahuan dengan penglihatan atau visual. Ciri-ciri orang tipe visual sebagai berikut.:
• Cenderung bernapas pendek-pendek lewat dada, berbicara cepat.
• Mereka suka menyela pembicaraan orang lain, bergerak cepat, makan cepat, penuh    energi, dan berbicara dengan nada tinggi.
• Penampilan rapi dan enak dipandang mata.
• Mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Berkomunikasi dengan tipe visual, Anda harus memvisualisasikan keadaan, buat mereka melihat apa yang Anda katakan.
Pilihan kata orang-orang visual antara lain:
• Melihat
• Memperhatikan
• Menonton
• Menunjukkan
• Memandang
• Membayangkan
• Mewarnai
• Memvisualisasikan
• Penglihatan
• Sudut pandang
• Lihatlah dari sudut pandang saya.
• lde Anda kabur
• Bisa Anda bayangkan?
• Izinkan saya tunjukkan pada Anda.
• Perhatikan benar-benar maka Anda akan paham maksud saya.
Petunjuk berdasarkan gerakan mata • Tipe Visual • Memori Visual: jika Anda bertanya orang tipe visual pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di ingatan mereka, Anda bisa perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu ke kiri. Coba tanyakan apa warna sepeda motornya atau mobilnya? Seperti apakah rumah Anda?
 • Kreatif Visual: Jika Anda bertanya kepada mereka dan mereka tidak siap menjawabnya. Atau dia tidak punya gambaran yang belum mereka miliki. Perhatikan mata mereka bergerak ke atas lalu kanan. Coba bayangkan ada kuda yang bertubuh sapi dan mempunyai sayap dan terbang. • Tanpa Fokus: tidak menggerakkan mata mereka sama sekali. Mereka sepertinya melihat Anda, tapi menatap ke arah Anda.
Tipe Auditori: Mereka akan lebih mudah menyerap informasi atau pengetahuan dengan mendengar atau dengan cara diceritakan atau dijelaskan orang lain. Ciri-ciri orang tipe auditori:
• Cenderung bernapas lewat diafragma.
• Lebih suka mendengarkan daripada berbicara, ketika berbicara menggunakan variasi warna suara.
• Berkomunikasi dengan tipe auditori, Anda harus berbicara pelan dan teratur, ubah-ubah warna suara Anda. Jelaskan situasinya dengan detail dan picu diskusi lebih lanjut dengan pertanyaan.
Pilihan kata orang tipe auditori: • Dengar • Mendengarkan • Mengatakan.
Tipe Kinestetik: Mereka akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan dengan cara melibatkan gerak dan menyentuh perasaan mereka. Ciri-ciri orang tipe kinestetik:
• Bunyi
• Cenderung bernapas dalam dan tenang.
•Bicara Lebih mengutamakan perasaan.
• Keputusan yang diambil banyak didasari oleh perasaan Kesunyian
• Nada dan emosi
• Ritme
• Berkomunikasi dengan tipe ini Anda harus bisa membuat
• Kedengarannya akrab. mereka "merasakan" apa yang Anda katakan.
• Kedengarannya itu ide yang bagus
• Dengarkan, saya punya ide bagus
• Ada yang ingin saya katakan.
• Mari kita bicarakan tentang pekerjaan baru Anda.
Petunjuk berdasarkan gerakan mata • Memori Auditori; Jika kepada tipe auditori Anda ajukan pertanyaan yang mereka telah mempunyai jawabannya, perhatikan mata mereka bergerak ke kiri lalu lurus ke depan. Ingatlah lagu kesukaan Anda, ingatlah suara ibu Anda. • Kreatif Auditori; Untuk pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak dapat jawab langsung, tipe auditori akan menggerakkan matanya lurus ke depan lalu bergerak ke kanan. Bayangkan bunyi klakson mobil atau bel rumah Anda berbunyi seperti meongan kucing. ketika mereka berdialog dan berbicara dengan diri sendiri maka tipe auditori akan menggerakkan matanya ke bawah lalu ke kiri. Coba ingat-ingat ucapan Anda kepada diri sendiri ketika Anda lulus.
Pilihan kata orang Kinestetik:
• Merasa
• Emosi
• Tenang
• Frustrasi
• Tertekan
• Malu
• Gugup
• Kesepian
• Santai
• Stres
• Ide Anda benar-benar menyentuh perasaan.
• Bisakah Anda merasakan yang saya rasakan?
• Saya setuju. Anda sangat emosional.
• Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Saya lebih suka ketenangan.
• Di sini dingin. Apa Anda merasakannya?
Gerakan mata tipe kinestetik • Jika Anda coba tanyakan kepada tipe kinestetik, "Apa yang Anda rasakan saat Anda jatuh cinta?" Matanya akan bergerak ke bawah lalu ke kanan saat berupaya mengingat perasaannya ketika itu terjadi. Sobat, dengan mengetahui mesin kecerdasan kita dan mengenal gaya komunikasi kita dengan baik hal ini sangat membantu kita dalam menunjang keberhasilan dakwah sehingga kita bisa menyesuaikan dan menggunakan modal dan karunia Allah di atas dengan tepat guna sesuai dengan audiens yang kita hadapi. Inilah kuliah teknik khitobah II yang banyak memberikan manfaat agar dakwah yang akan kita sampaikan bisa sukses dan mengena audiens.
Akupun tak langsung pergi meninggalkan kelas, “Cil, sini !!” ( terdengar suara dari luar ruangan itu), yaa .. Entahlah kenapa aku di panggil Chil-Chil. Ku lihat, laki-laki berjaket levis bersama kedua temannya. Sudah pulang? kok cepet? “Tanya laki-laki memakai tas hitam itu.” Sudah, ini barusan keluar, “Jawabku kepadanya.” Disini dulu aja Te sama aku, “Ungkap Nitra Galih yang selalu memanggilku dengan sebutan akrab, Tantee.”
Eeeh Te, Selfii yuk? “ Ajak wanita bertas hitam motif abu-abu.” Tanpa berfikir lama, akupun foto dengannya berkali-kali. Astaghfirullah ... “Ucap Becung, laki-laki bersepatu merah.” Mau ikut foto Cung? “Tanyaku kepadanya.” Yo yo rekk .. “Jawabnya dengan semangat,” hingga akhirnya teman yang lainnyapun berdatangan dari kelas sebelah yang kemudian ikut foto bareng. Ya .... Hitung-hitung reuni dengan teman seangkatan. Kitapun bercanda bareng. Di sodorkannya jajan ke depan wajahku, ini makan, “Ucap laki-laki berjaket abu-abu.” Akupun melongo melihat laki-laki bersenyum manis langsung memakan jajan itu. Mhaaaa.. Cepet banget dia makannya, “Gumamku dalam hati.” Ayooo ini buatmu, “Ungkap laki-laki banyak tawa itu dengan memberikan jajan itu kepadaku.” Iyaa, “jawabku sambil mengambil jajan yang berada di tangannya, huhh!! Usil banget Becung ini,” Ku habiskan waktu itu dengan makan bersama teman-teman sebayaku, dan tak terasa waktu nunjukkin pukul 15:30, bertanda aku harus kembali ke kosku.
Sepulang kuliah, sore itu cuaca cukup bersahabat, kuteguk segelas air putih dan sepotong roti sambil mengumpulkan energi yang tersisa untuk melanjutkan aktivitas mengerjakan tugas yang semakin menumpuk. Teman-teman kos lagi asyik duduk di beranda kamarnya, entah ngegosip atau sekedar bercengkerama. Aku berfikir ingin pulang ke rumah, kurogoh saku baju untuk menyiapkan uang menuju rumah tercinta. Akupun segera berpamitan dan melangkahkan kaki menuju halte A.Yani menanti kedatangan bis p6 yang selalu setia menemani perjalananku. 40 menit menunggu, akhirnya datang juga jembatan yang menghantarkanku antara kampus sampai rumahku. Satu jam bersilam, akupun turun di terminal osowilangon dan berganti angkot menuju arah rumah.
Aku buka pintu pagar rumah, dan menutupnya kembali. Baru berjalan sekitar 3 langkah ke depan,  “Assalamu ‘alaikum”, terdengar suara ibu yang menghentikanku melepas sepatuku. “Wa‘alaikum salam” jawabku sambil melihat ke arah ibu dan mencium tangan ibu. “capek?” tambahnya lagi dengan ramah, dan akupun hanya tersenyum. Uhhh ... Lega sekali rasanya aku bisa terbaring lelap di dipan kesayanganku. Inilah suasana hari itu, Selasa 14 April 2015.


[1] N. Faqih Syarif H. Kiat Dahsyat menjadi Da’I Sukses