Rabu, 25 Maret 2015

KISAH TELADAN ABDULLAH BIN RAWAHAH.R.A



Ketika Rasulullah hijrah dan menetap di Madinah bersama sahabatnya, Abdullah bin Rawahah  memiliki banyak usaha dan kegiatan dalam membela agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ia yang paling menguasai untuk melihat strategi musuh, seperti tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang tidak pernah putus asa untuk menjatuhkan islam dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan.  Kesiagaan Abdullah bin Rawahah dapat mengagalkan niat buruk Abdullah bin Ubay.
Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imri’ al-Qais berasal dari golongan Anshar kabilah khazraj. Biasa di panggil dengan Abu Muhammad atau Abu Rawaahah. Abdullah bin Rawahah r.a masuk islam di hadapan Rasulullah saw,dan termasuk 10 sahabat yang di jamin masuk surga. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 165)
Abdullah bin Rawahah r.a adalah seorang sahabat yang sangat pandai menggubah bait-bait syair karena itu dia sangat sedih ketika turun ayat : (Asy-Syu’ara 224-226)
وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ ٢٢٤ أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ ٢٢٥  وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ ٢٢٦
“Dan penyair-penyair itu di ikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidaklah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?”. (Asy-Syu’ara 224-226)
Setelah membaca ayat tersebut, Abdullah bin Rawahah r.a berkata, “Allah telah mengetahui bahwa aku termasuk di antara mereka.” Kemudian Allah SWT menurunkan ayat berikutnya :
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ يَنقَلِبُونَ ٢٢٧
“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir) ... “ (Asy-Syu’ara:227).
Membaca ayat ini, Abdullah bin Rawahah r.a mendapatkan kembali kebahagiaannya. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 175)
            Di antara gubahan bait-bait syair Abdullah bin Rawahah r.a tentang pujian kepada Rasulullah saw adalah sebagai berikut :
Di sisi kami ada Rasulullah saw. Kami membaca kitabnya(al-Qur’an).
Maka terbit kebaikan di waktu fajar yang menerangi.
Malam hari lembungnya menjauh dari tempat tidur.
Apabila tempat tidur menjadi berat dengan masalah orang-orang musyrik.
Dia datang membawa petunjuk setelah buta mata hati kami.
Dengan petunjuk menjadi yakin segala yang di katakan akan terjadi. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 177)
Dan datanglah waktunya perang Muktah .. Abdullah bin Rawahah   adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah .. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya ;
“Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ....
Mati syahid di medan perang !!!
            Balatentara islam maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar dua ratus ribu orang, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya.
            Orang-orang islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam, dan sebagian ada yang menyeletuk berkata :” baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika di perintahkan tetap maju maka kita patuhi.” Tetapi Ibnu Rawahah bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap :
“Kawan-kawan sekalian ! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan,kekuatan atau banyaknya jumlah ... ! Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah di muliakan Allah ... ! Ayolah kita maju ... ! salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah .. !”
            Dengan bersorak sorai kaum muslimin yang sedikit bilangannya,tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak : “Sungguh demi Allah, benar yang di bilang Ibnu Rawahah !
            Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil di himpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.
            Kedua pasukan balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya. Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, di susul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kebesaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanan Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membanjiri laksana air bah, yang berhasil di himpun oleh Heraklius untuk maksud ini.
            Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan, yang akan di mintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi, seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru :
“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat, engkau menolak surga ...
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh,kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti ..
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati .. !”
(maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
            “Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah kesatria sejati ...!” Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari ini adalah saat janjinya akan ke surga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya,hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi lonceng keberangkatan sudah berdenting, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid.
            Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya :
“Hingga di katakan, yaitu bila mereka melewati mayatku: Wahai prajurit perang yang di pimpin Allah,dan benar ia telah terpimpin !”
“Benar engkau ya Ibnu Rawahah .. ! Anda adalah seorang prajurit yang telah di pimpin oleh Allah .. !”
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah, sambil mempercakapkan merekka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang dan tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh di sebabkan rasa duka dan belas kasihan ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata :”Panji perang di pegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid.. Kemudian di ambil alih oleh Ja’far,dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula .. “Beliau berdiam sebentar lalu di teruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu di pegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu,sampai akhirnya ia pun syahid pula.”
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya,menyinarkan kegembiraan,ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga di angkatkan ke tempatku ke surga.”
Perjalanan mana lagi yang lebih mulia ...
Kesepakatan mana lagi yang lebih berharga ...
Mereka maju ke medan laga bersama-sama ...
Dan mereka naik ke surga bersama-sama pula ...
Dan penghormatan yang di berikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi ialah ucapan Rasulullah saw yang berbunyi : “Mereka telah di angkatkan ke tempatku ke surga.” (Khalid Muhammad Khalid, 2006 :336-339)
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari kisah tersebut bahwasannya kita harus menjadikan diri kita pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan hanya pemimpin yang duduk tenang melihat bawahannya sedang kesusahan. Akan tetapi mereka maju untuk menyelamatkan bawahannya. Mengedepankan kesejahteraan bawahannya, dan terjun bersama-sama untuk menyelesaikan suatu masalah. Sangat susah sekali di zaman sekarang ini mencari pemimpin yang seperti ini, pemimipin di zaman sekarang malah bersembunyi di belakang bawahannya. Mereka takut menghadapi sesuatu, padahal sudah jelas kelak pemimpin akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Point yang kedua, tidak semua penyair adalah orang yang menyesatkan, selagi dia beriman, berbuat kebajikan, dan mengingat Allah. Mereka bersyair untuk memberikan motivasi kepada oranglain agar mereka tidak takut untuk berjuang di jalan Allah. seperti slogan Abdullah Ibnu Rawahah r.a :
Wahai diri ...
Jika kau tidak gugur di medang juang ...
Kau akan tetap akan mati ...
Walau di atas ranjang ...

10 komentar:

  1. subhanallah sangat brmanfaat

    BalasHapus
  2. Luar biasa. Abdullah bin Rawahah adalah sahabat yang paling menguasai untuk melihat strategi musuh. Itulah manajemen dakwah yang serba kompleks menuju kebahagiaan Islam dan Kaum Muslimin.

    BalasHapus
  3. subhanallah Abdullah bin Rawahah inspirasi umat muslim masa kini :)

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar... Subhanallah :)

    BalasHapus
  6. semakin kita paham semakin kita lancar mengungkapkan,,,,bisa jadi cerita buat putra kita kelak

    BalasHapus