Rabu, 08 April 2015

Mengukir Mimpi

 Terselip do’a dalam setiap hembusan nafas ingin melihat senyuman dari orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku lewat impianku. Gadis kecil kebanggan merupakan dambaan yang di harapkan oleh setiap orang. Dalam benak selalu terbesit, bagaimana menjadi seseorang yang menjadi dambaan oranglain? terkadang terlintas sebuah jawaban yakni kemauan, kerja keras, bersungguh-sungguh dan di sertai do’a.
Teringat raut wajah orangtuaku, inilah yang memotivasiku agar sungguh-sungguh sehingga aku dapat membahagiakannya. Rintih suaranya selalu menjadi cambuk di saat aku sedang bermalas-malasan. Begitu mulia jasa orangtuaku, terkadang airmata menetes tanpa di sengaja di saat ku melihat betapa sabarnya mereka menjaga, membesarkan dan mendidikku tanpa rasa keluh kesah.
Pengorbanan ayah, keringatnya yang bercucuran dalam letih dan lelahnya untuk menafkahi dan membahagiakan keluarganya. Bagiku ayah adalah orang terkuat yang berkorban memelihara keluarga. Beliau mengemban tugasnya, mencari nafkah meskipun terik matahari maupun hujan selalu menemani. Bagi hidupku ibu bagiakan nada yang tidak akan ada habisnya mengiringi kehidupan ini,  terkadang aku lupa akan arah kehidupan, namun sang ibu tidak pernah membiarkan aku hilang tanpa arah, beliau  selalu mengisi hati ini dan mengingatkan bagaimana menatap tujuan hidup yang membentang di depan sana. Kakak, selalu memberikan ketenangan. Ia orang yang berharga dalam hidupku, perhatiannya yang tulus membuatku bangga terlahir memiliki seorang kakak seperti dia.
Kurakitkan impian-impian yang indah dalam tidurku di malam yang sunyi. Dingin malam menjagaku yang terlelap dari kelelahan,sang fajar pun dengan cepat begerak meninggalkanku, tentu disambut hangat oleh matahari siang hari, aura akan panasnya bagaikan merobek kulitku. walaupun tubuhku ini cuma di hiasi kain biasa dengan kerangka yang di lapisi kulit namun tidak akan pernah memudarkan semangatku untuk mencari ilmu demi menggapai cita-citaku. kepak sayap merpati beriringan bersisian arah dihiasi kicau bernyanyi di ranting pepohonan berbisik di balik jendela hari, menyambut hari yang kan menuai janji.
09:35 keluarlah mahasiswa dari ruang D2.105, sesampaiku di depan gedung fakultas dakwah dan komunikasi, ku di sambut hujan. Huhh lebat banget ini ujan !! nyampek kos basah kuyuplah aku, “ Ungkapku kepada Fajriyah.” Ayo beli makan dulu mbak? “Ajaknya kepadaku.” Sambil lari-lari kecil ku telusuri jalanan becek dengan menaiki sepatu hijau kesayanganku. Di warung sederhana depan gang dosen ku pilih nasi dengan lauk ati untuk menu makan pagiku. Tidak mungkin aku menghabiskan makanan ini tanpa minuman yang menyertaiku, dan ku pilih marimas frambos sebagai penghilang hausku. Cukup dengan mengeluarkan uang 8000, aku dapat membawa pulang makanan itu. Gadis yang memakai tas coklatpun memilih menu telur dadar dengan marimas kelapa muda sebagai penunda dahaga.
Ku lanjutkan langkah kaki menuju tempat peristirahatanku. Blukk.. Blukk .. Blukk .. Suara sepatuku sedang beradu dengan air yang menggenangi jalan. Dipelukan dan dinginnya titik air hujan yang tercurah laksana irama yang bernyayi beriringan memberi warna akan keindahan. Semakin cepat lajuku karena hujan semakin mengundang. Wahh !! kita kayak pinguin aja yaa jalannya? “Ucap wanita bersepatu pich itu.” Hahahahaaaaa (sambil mangguk), dan akhirnya aku katakan : Iya pinguin kelaparan menuju kos-kosan untuk menghabiskan makanan.
±10 menit kemudian, aku telah sampai di kos tempat peraduan bersama temanku. Tak usah menunggu waktu yang terlalu lama, kamipun melahap makanan yang terbungkus kertas minyak. Selesai mengisi perut, kami bergegas kembali ke kampus untuk melanjutkan mata kuliah Teknik Khitobah II pukul 12:00.  Derasnya hujan tak menghalangi semangatku untuk mengikuti mata kuliah ini.
Kehujanan, basah jaketku, “ungkap Baity di depan ruang bercat cream itu.” Iya, ini kerudungku juga basah, lari-lari buat sampai kesini jawabku. Ku buka tas kecilku, spontan gadis berjam tangan hitam tersebut bertanya: “ Az, bawa makanan ndak? lapar aku.” Aku ndak bawa, “jawabku sambil menunggu sholat di dalam kelas selesai. Iya dosen matakuliah jam ini memang sedang melaksanakan sholat berjamaah dengan 6 cowok dan 2 cewek. Capek mbak imut, “ucap gadis berkerudung ping yang berada dalam kerumunanku.”Entahlah kenapa dia memanggilku seperti itu.
5 menit bersilam, wanita berkerudung biru datang membawa “Kuwaci”, dia bagikan kepada teman-teman yang perutnya lagi demo. Waktu terus berputar, menit berlalu, datanglah 2 laki-laki dari arah kiriku. Ini mungkin motivator yang pernah di ceritakan Pak Prof, “gumamku dalam hati.” Akupun segera memasuki ruang DI.211, sedikit lagi langkahku untuk membuka pintu, ternyata ada laki-laki berkemeja biru menoleh dan bertanya: Masuk kelas ini? matakuliah Prof Ali?. Iya jawabku kepada laki-laki yang tak ku kenal sebelumnya. Akhirnya ku lanjutkan memasuki ruang yang memiliki 2 AC itu. Kursi ini berantakan sekali, “gumamku.” Ayo benerin kursinya, “suara gadis berkerudung coklat membubarkan lamunanku.” Duduk sini saja Az !! “Teriak gadis berbaju biru dengan menatapku.”
Jadikan 2 baris, maju kedepan, “Ungkap dosen berkacamata itu.” Di baris depan bangku no 3 dari arah kiri aku duduk bersebelahan dengan diana wanita berbaju kuning. Maaf, hari ini saya tidak bisa mengisi matakuliah full, karena saya ada pelatihan dan harus ke Bromo jam 13:30, “ Ucap Pak Faqih seorang motivator handal.” Hambatan apa yang paling berbahaya untuk kita? “Tanya bapak berbaju merah dengan motif bergaris.” Hambatan yang tidak tampak pak, “sahut mahasiswa di bangku baris kedua.” Iya hambatan tersebut adalah penjara mental bagi kita semua, di antaranya : pikiran negatif, hati-hati dengan hal tersebut karena akan menjadi sindrom dalam kehidupan kita. Ada sebuah cerita, seorang profesor membagikan lembar jawaban kepada mahasiswanya dengan mengatakan: 5 tahun terakhir ini, hampir semua mahasiswa tidak lulus matakuliah saya, sehingga ucapan negatif itu terus menghantui pikiran mahasiswa, 5 menit bersilam ada seorang mahasiswa terlambat dan dia tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh profesor tersebut, yang lain serius mengerjakan, dia malah bernyanyi-nyanyi (la la la la la) dan dengan santainya dia menjawab soal ujian yang di berikan .Ketika pengumuman kelulusan, ternyata benar hampir semua tidak lulus mata kuliah ini, dan mahasiswa yang datang terlambat tersebut lulus matakuliah karena ada kemungkinan dia tidak mendengar ucapan negatif yang menghantuinya.  Ketika menghadapi ujian nasional, kerjakanlah soal yang mudah terlebih dahulu, karena kegagalan sering berawal dari nervous yang berlebihan, “Penjelasan dari motivator bersepatu hitam tersebut.”
Ketika saya bilang hay, maka jawab hallo yaa? Dendam, dengki, dongkol adalah sifat syetan kepada manusia, hati-hati dengan 3D tersebut, ketika kita mempunyai sifat itu berarti kita sama seperti syetan. Syetan saja berdo’a kepada Allah, kenapa kita malas untuk berdo’a? kalau gitu kita kalah dengan syetan?, “Tanya motivator pemilik 3 pondok itu.” Kekuatan manusia terletak di antara dua telinga yakni “pikiran.” Di saat ada dorongan untuk berbuat keburukan, dan menunda-nunda kebaikan, itu merupakan bisikan syetan. Penjara selanjutnya yakni Usia, jangan jadikan dalih usia untuk mencapai kesuksesan, “ungkap motivator berkacamata itu sambil membawa boardmaker hitam dan hijau.” Kewajiban mencari ilmu itu tidak memandang batasan usia, melainkan seumur hidup.Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat, “gumamku dalam pikiranku.”  Kalian tau gambar orang tua yang selalu terlihat di kfc? Dia tidak pernah memakai dalih usia untuk mencapai keinginannya.
Harland Sanders lahir pada tanggal 9 September 1890. Ayahnya meninggal saat dia masih berusia enam tahun. Ibunya pun terpaksa memikul tanggung jawab lebih awal. Kondisi yang ada mengharuskan Harland Sanders menjaga kedua adik kandungnya dan belajar memasak lebih awal. Belum menginjak tujuh tahun, Harland Sanders telah menjadi koki handal. Dia bekerja di sawah saat baru berusia sepuluh tahun dengan upah dua dolar setiap bulan. Dia juga pernah bergabung menjadi tim pemadam kebakaran kereta api.
Dalam benaknya bergejolak keinginan untuk mendirikan sebuah rumah makan. Tidak satu pun orang yang tahu kalau komentar pedagang asongan tersebut akan menjadi satu titik yang menjalar hingga menjadi sebuah rumah makan yang tersebar di mana – mana. Rumah makan tersebut melahirkan sebuah gebrakan dalam menyajikan menu makanan tercepat. Dia berkata “Sungguh, sepintas saya pernah berpikir bahwa sesuatu yang paling mengesankan yang pernah saya lakukan di masa silam adalah memasak. Sebagaimana saya ketika menjual apa yang saya masak, maka masakan saya pasti tidak akan lebih jelek dari masakan para pemilik rumah makan yang ada di kota iní.”
Harland Sanders sangat suka ayam goreng, hanya saja tidak memakai cara klasik, yaitu dengan memakai minyak yang tidak bisa menghasilkan rasa seperti yang diinginkannya. Pada tahun 1939, Harland Sanders menemukan cara jitu untuk menggoreng ayam. Salah satu hal yang membantu penemuan barunya tersebut adalah penemuan pressure cooker atau panci bertekanan yang dapat menghasilkan ayam lezat dan segar dalam waktu sepuluh detik dengan cara dikukus di atas uap, tanpa menghilangkan rasa dan bau serta tidak menggunakan minyak. Setiap tahun, Harland Sanders selalu melakukan percobaan hingga menemukan resep spesial yang terdiri dari rempah – rempah dan bumbu – bumbu.
Pada tahun 1949, Harland Sanders menerima pangkat kolonel berkat keberhasilannya di wilayah Kentucky. Akan tetapi, Harland Sanders lebih suka dipanggil bisnisman Meski dengan kondisi jiwa yang remuk, akan tetapi Harland Sanders tidak menyerah. Kepada dirinya dia berkata, “Tidak ada apa pun di hadapanmu kecuali satu hal yang bisa dilakukan, yaitu menggoreng ayam. Inilah yang akan engkau lakukan sepanjang hayatmu.” Harland Sanders menjual ayam ala KFC ke rumah makan di wilayah Outta. Hal ini memotivasi dirinya untuk menandatangani kontrak dengan beberapa rumah makan lainnya. Saat itu, dia mengambil empat sen untuk setiap ayam yang terjual. Harland Sanders turun ke pasar – pasar untuk mempromosikan ide penjualan ayam KFC-nya, meski sudah tua dan terserang penyakit rematik. (https://nyomanantika.wordpress.com/2011/11/25/kolonel-harland-sanders-pendiri-kfc/)
Kesehatan, jangan jadikan penghalangmu untuk meraih impianmu. Keterbatasan fisik tentu tak boleh menjadi hambatan untuk mencapai impian dan cita-cita kita. Banyak sekali orang-orang yang dikaruniai fisik sempurna malah mengeluhkan hidupnya dan tak mampu bekerja keras untuk mendapat penghidupan yang layak. Padahal diluar sana banyak sekali orang-orang berkebutuhan khusus yang tak berhenti mengejar cita-cita dan mengabaikan kondisi fisiknya yang tak sempurna. Salah satu diantara orang-orang hebat itu adalah Habibie Afsyah, seorang internet marketer muda yang mengidap kelainan muscular dytrophy. Habibie Afsyah adalah seorang pria sederhana yang tampak biasa-biasa saja. Anak bungsu dari 8 bersaudara ini lahir di Jakarta tanggal 6 Januari 1988. Putra pasangan H. Nasori Sugianto dan Hj. Endang Setyati ini menjalani masa kecilnya seperti anak-anak pada umumnya. Habibie bukanlah penyandang cacat fisik sejak lahir. Sebuah penyakit bawaan bernama muscular dytrophy lah yang perlahan-lahan merenggut fungsi motorik tubuh Habibie sehingga ia mulai tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Dari hasil belajar kursus marketing dan praktek secara real di dunia maya, Habibie sudah berhasil menerbitkan ebook panduan sukses dari Amazon, membuat situs jual beli properti (rumah101.com)dan menjadi trainer di acara seminar Eprofitmatrix bersama sang guru, Suwandi Chow. Kala itu di usia yang baru menginjak 20 tahun, Habibie mampu menjadi pria berkebutuhan khusus yang mandiri secara finansial bahkan mampu membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Bila dulu sosok Habibie muda hanya menjadi pria yang pesimis pada dirinya sendiri dan hanya gemar bermain game online dan berselancar di dunia maya, kini kasih sayang dan perhatian sang ibu menjadi kekuatan berharga yang mendukung kemajuan Habibie di dunia online marketing. Banyak sekali seminar dan talkshow kampus yang sering mengundang Habibie Afsyah sebagai narasumber yang menginspirasi banyak orang.(https://www.maxmanroe.com/habibie-afsyah-penyandang-difabel-yang-sukses-di-internet-marketing.html).
Simak kisah ini, “ucap motivator gagah tersebut.” Ferrasta Soebardi (57) atau lebih dikenal dengan nama Pepeng, sudah hampir enam tahun ini terbaring di ranjang kamar tidurnya. Sejak penyakit Multiple Sclerosis menyerangnya Juli 2005 silam. Selain dikenal sebagai public figur, Pepeng juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang multimedia bernama Jari-jari Communication. Dia juga pernah bekerja untuk perusahaan Bakrie Brothers di tahun 1989. kini Dalam keadaan sakit pun, Pepeng masih terus berjuang dan berhasil menyelesaikan studi S2 nya di Universitas Indonesia bidang psikologi dengan nilai sangat memuaskan (A). "Mungkin kalau saya masih sehat, saya belum tentu menyelesaikan S2 saya," ungkap Pepeng. Dari balik kamar tidurnya yang biasa dia sebut 'Goa’,  Pepeng menjalankan beberapa bisnis online dibidang penjualan domain. Dia juga menjadi penggagas gerakan sosial pendidikan Indonesia, sebuah gerakan yang peduli terhadap pembangunan sekolah-sekolah yang roboh. Selain aktif menulis artikel, Pepeng saat ini juga sedang mempersiapkan sebuah buku yang diberi judul ‘Di Balik Jari-Jari’. Buku ini menurut Pepeng lebih diposisikan sebagai buku motivasi bagi para pembacanya.  (https://djarumbeasiswaplus.org/artikel/content/108/Tokoh-Kita:-Pepeng,-Menyelami-Makna-Hidup-dari-balik-tempat-tidur/)
IQ/latar belakang pendidikan, tidak menutup kemungkinan orang yang tidak mempunyai pendidikan yang tinggi tidak bisa berkreativitas, lihat Andrie Wongso. Motivator Indonesia Memiliki motivasi dan tekad kuat untuk mencapai target itulah gambaran diri dari Andrie Wongso, Meskipun bergelar SDTT [Sekolah Dasar Tidak Tamat] namun berkat tekadnya yang kuat berhasil mengantarkan Andrie Wongso menjadi Motivator Nomor Satu di Indonesia. Andrie Wongso yang dilahirkan 6 Desember 1954 di kota Malang, Jawa Timur ini hidup dalam keterbatasan finansial, ia merupakan Anak ke-2 dari 3 bersaudara. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar. Di usia 22 tahun, Andrie memutuskan berangkat ke Jakarta demi mengubah nasib dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan jujur. Sejak tahun 1989, dia menjadi pembicara/motivator intern PT. Harvindo Perkasa (Harvest Fans Club di berbagai kota), dan dari sinilah, kemudian ia sering melakukan training motivasi, tidak hanya untuk Harvindo tapi juga untuk berbagai perusahaan dan instansi. Kini, ia dijuluki sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Lalu, gelarnya ditambah TBS, yang artinya Tapi Bisa Sukses. Itulah Andrie Wongso, SDTT, TBS.
Nasib, banyak orang mengatakan nasibku memang seperti ini.  Ketika kita tidak bisa membuka penjara mental ini, maka kita akan terus di hantui rasa tidak percaya diri untuk menggapai cita-cita. “Ungkap motivator berkulit coklat agak kehitaman sambil berdiri menatap mahasiswanya.”
            Yakin akan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Setelah penghalang di hancurkan, maka tulislah impianmu. Mengapa kita harus menulis impian kita di tempat yang selalu kita lihat?. Agar kita selalu termotivasi dan ingat akan impian kita, “Sahut mahasiswa berbatik biru.” Bapak motivator tersebut melanjutkan penjelasannya: Iya, mengapa kita takut menulis impian kita, padahal impian itu gratis. Tulislah impianmu dan selipkan proposal itu serta ajukan kepada Allah. Tempel di berbagai sudut ruangan agar kamu selalu ingat impian itu. Sebut segala sesuatu yang menjadi impianmu di setiap do’amu. Kita harus berani bermimpi, berani gagal, dan terus mencoba. Saya punya teman waktu SMA, dia memang aneh dari teman yang lain. Dia selalu membawa tas jinjing. Ketika turun dari angkutan, saya dan teman yang lain berbaris untuk menyambutnya. “Pagi Prof”, itulah ejekanku dengan kawanku kepadanya. Tetapi dia tidak pernah marah dan selalu menjawab sapaan kita. Di bukunya tertulis namanya sendiri, tapi yang bikin heran, di atas bukunya terukir namanya dengan tittle Prof. Dr. (nama orang tersebut) dan di lanjutkan tittle berikutnya. Saya dan yang lain selalu menertawakan sampai pada suatu waktu dia marah dan berkata: “kenapa kalian selalu menggangguku? apa salahku?.” Dari situ saya merasa bersalah dan minta maaf. Itulah impiannya, dan yang tidak saya sangka, 4 tahun yang lalu saya bertemu dengan dia dan dia sudah menjadi orang sukses. Inilah pengalaman saya di waktu SMA. Pada saat itu saya juga punya impian agar buku saya bisa terbit di Gramedia. Ketika saya memasuki gramedia, saya pegang buku best seller (beliau menjelaskan dengan tangan seolah-olah memegang buku), ini visualisai, saya berdo’a seperti ini: Ya Allah, suatu saat buku saya akan berada disini. Tidak lama saya di kagetkan oleh petugas karena saya di kira tertidur, akhirnya saya bicara; saya tidak tidur pak tapi ini visualisai. Akhirnya Alhamdulillah beberapa tahun kemudian buku saya bisa berada di Gramedia menjadi best seller. Oleh karena itu jangan pernah takut untuk bermimpi. “Cerita motivator penggapai mimpi itu.”
Pernah membaca buku “ON” ?, sontak akupun berfikir “buku apaan ini? kenapa judulnya hanya ON?.” Tak lama aku berfikir, Pak Nasrul Faqih Syarif meneruskan: yang di maksud ON yaitu kita harus VisiON, memiliki tujuan jangka panjang yakni dunia dan akhirat, jaga keseimbangan antara keduanya jangan sampai kamu hanya ingat akan duniamu. ActiON, kerja keras dengan seluruh semangat kita, kemudian kerja cerdas harus memiliki planning yang baik, dan jangan lupa kita harus ikhlas. PassiON, kita harus mengetahui dimana bidang yang kita kuasai, dan kita merasa nyaman dalam bidang tersebut. yang terakhir CollaboratiON. Akupun menganggukan kepala, pertanda aku lega karena ON yang berada dalam pikiranku telah di jelaskan. Ini sudah jam berapa?, “tanya motivator bertempat tinggal di Waru.” Jam 13:25 pak, “ucapku sambil melihat jam yang menghiasai pergelangan tanganku.” Yasudah maaf saya harus pergi ke Bromo, minggu depan akan saya lanjutkan kembali. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semua. Kemudian beliaupun meninggalkan kelas. 3 menit bersilam, ini boardmaker siapa?,”Tanya dosen matakuliah Teknik Khitobah II, ayo lari kasihkan Pak Faqih.” Kemudian dosen berkemeja lengan pendek itupun menyambung penjelasan tadi. Tulis apa yang kalian dapatkan hari ini, ayo mulai dengan Bismillah, “ Ungkap dosen berbiwaba itu.” 5 menit kami menulis, sudah pak ... capek !!!, “keluh beberapa mahasiswa dari baris kedua.” Yasudah kita sudahi saja, lanjutkan di rumah ya, mari kita tutup perkuliahan hari ini dengan do’a akhir majlis. Inilah suasana perkuliahan Selasa, 07 April 2015.

Rabu, 01 April 2015

Sepatu Hijau Temani Sujudku


Bulan akan berganti, seiring sang mentari menyambut pagi, kini siang ku lalui berarak meninggi diatas peraduan, memberi warna akan keindahan sang Pencipta. Azka... Az... Az... “Terdengar suara wanita dari gedung A fakultas dakwah dan komunikasi.” Sejenak saya berhenti (sambil mencari darimana suara asing tersebut). Didepan mading terlihat seorang gadis berbaju kuning dengan tersenyum dia menyambut kedatanganku. Apa kabar Az? “ungkap si Mimin.” Baik, kamu sendiri bagaimana? (saling berjabat tangan). Baik juga, eeehh kamu semakin kurus saja Az !!! Ucap gadis berkulit coklat matang itu. Hahahahaa ... (Aku tertawa) masak sih? berat badanku naik 1 Kg lho ! “Hahhh” (ekspresi gadis yang mempunyai berat badan 50 Kg itu). Ya sudah aku masuk dulu ya? “ucap aku kepada teman intensif Bahasa Arab di semester 2.
Masih berjalan 6 langkah, teman yang menggandeng tangan saya bertemu dengan kawannya. Mereka saling menyapa untuk bertanya kabar, aku hanya tersenyum mendengarnya. Ku langkahkan kaki beriringan dengan langkah Nafisa menaiki tangga menuju ruang D1.211. Dari kaca pintu terlihat perkuliahan “Teknik Khitobah II”  sudah di mulai, aku terkejut dan ku genggam erat tangan teman berkerudung orange yang bersamaku. Saya bersandar di pintu coklat dengan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku.  Mengapa kak Farid bersujud di dalam kelas? Apa dia sedang praktek sholat? belum terjawab pertanyaanku, terdengar suara menggelegar dari dosen yang sangat berwibawa “ sini.. sinii.. Sujud syukur baca subhanallah 100x.” Spontan saya menaruh tas di bangku depan sebelah kiri.
Rasa malu terus menghantui pikiran, saya tidak langsung melaksanakan perintah tersebut, Apa sepatu ini di pakai untuk bersujud? “bisik aku kepada gadis berhidung pesek yang bersamaku.” Saya bergumam “Ahh pakai sajalah sepatu hijau ini untuk bersujud.” 30 cm jarak kening ke lantai saya kembali berfikir, ini lantai apa pasir. Ubin yang berwarna putih, kini berubah menjadi hitam berdebu. 5 detik bersilam saya bersujud dengan bimbang karena saya harus menghitung 100 bacaan yang di baca.  Selesai melakukannya, perlahan wajah terangkat dari ubin dan terlihat senyum dari cowok di bangku nomor 2 ujung sebelah kanan.  Aku tadi juga sujud, “ Ungkap cowok berkemeja biru.” Saya masih menoleh ke segala arah melihat teman yang lain juga melakukan hal yang sama.  Ini pengalaman yang akan selalu terkenang, pertama kali bersujud dengan bersepatu.
Silahkan duduk, “Ucap Prof Dr.H.Moh Ali Aziz,” Az mana fotocopian tadi?, bagikan 1 lembar untuk dua mahasiswa. “Tanya dan perintah dosen bersemangat muda itu” (dengan membuka tangannya). Berdiri di deretan bangku pertama, dosen berkacamata itu menjelaskan pedoman penulisan yang berada di kertas yang telah di bagikan dengan semangat yang menyala-nyala untuk mengantarkan mahasiswa menjadi penulis terkenal.
Saya tidak bakat menulis pak ! “Teriak Handika.” Siapa bilang kalian tidak bakat menulis, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? kalian semua bisa, “ungkap dosen berkemaja putih rapi.” Ketika teman-teman sibuk mengeluh, saya ribut dengan kursi yang menjadi penyangga berwarna coklat yang terbuat dari kayu membuat saya merasa tidak nyaman duduk selama 2 jam.
Ruang bercat cream, 1 Ac yang menyala meliputi jalannya perkuliahan ini. 31 Maret 2015 dosen bersepatu hitam memberikan materi penulisan. Ada 4 sesi penulisan, 3 sesi menceritakan tentang kejadian hari ini, dan 1 sesi terakhir mengungkap kejadian di masa kecil. Setiap tahap, ada jeda waktu yang di berikan agar mahasiswa berkesempatan membacakan karangannya.
Yah ... Hari yang mengesankan, ikuti apa yang saya katakan, saya bahagia karena detik ini juga kelas ini berubah menjadi lebih hebat dari kemarin, tepuk tangan untuk kalian semua, “ungkap dosen mantan dekan fakultas dakwah dan komunikasi.”



Rabu, 25 Maret 2015

KISAH TELADAN ABDULLAH BIN RAWAHAH.R.A



Ketika Rasulullah hijrah dan menetap di Madinah bersama sahabatnya, Abdullah bin Rawahah  memiliki banyak usaha dan kegiatan dalam membela agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ia yang paling menguasai untuk melihat strategi musuh, seperti tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang tidak pernah putus asa untuk menjatuhkan islam dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan.  Kesiagaan Abdullah bin Rawahah dapat mengagalkan niat buruk Abdullah bin Ubay.
Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imri’ al-Qais berasal dari golongan Anshar kabilah khazraj. Biasa di panggil dengan Abu Muhammad atau Abu Rawaahah. Abdullah bin Rawahah r.a masuk islam di hadapan Rasulullah saw,dan termasuk 10 sahabat yang di jamin masuk surga. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 165)
Abdullah bin Rawahah r.a adalah seorang sahabat yang sangat pandai menggubah bait-bait syair karena itu dia sangat sedih ketika turun ayat : (Asy-Syu’ara 224-226)
وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ ٢٢٤ أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ ٢٢٥  وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ ٢٢٦
“Dan penyair-penyair itu di ikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidaklah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?”. (Asy-Syu’ara 224-226)
Setelah membaca ayat tersebut, Abdullah bin Rawahah r.a berkata, “Allah telah mengetahui bahwa aku termasuk di antara mereka.” Kemudian Allah SWT menurunkan ayat berikutnya :
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ يَنقَلِبُونَ ٢٢٧
“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir) ... “ (Asy-Syu’ara:227).
Membaca ayat ini, Abdullah bin Rawahah r.a mendapatkan kembali kebahagiaannya. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 175)
            Di antara gubahan bait-bait syair Abdullah bin Rawahah r.a tentang pujian kepada Rasulullah saw adalah sebagai berikut :
Di sisi kami ada Rasulullah saw. Kami membaca kitabnya(al-Qur’an).
Maka terbit kebaikan di waktu fajar yang menerangi.
Malam hari lembungnya menjauh dari tempat tidur.
Apabila tempat tidur menjadi berat dengan masalah orang-orang musyrik.
Dia datang membawa petunjuk setelah buta mata hati kami.
Dengan petunjuk menjadi yakin segala yang di katakan akan terjadi. (Asyraf Muhammad al-Wahsy, 2009: 177)
Dan datanglah waktunya perang Muktah .. Abdullah bin Rawahah   adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah .. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya ;
“Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ....
Mati syahid di medan perang !!!
            Balatentara islam maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar dua ratus ribu orang, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya.
            Orang-orang islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam, dan sebagian ada yang menyeletuk berkata :” baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika di perintahkan tetap maju maka kita patuhi.” Tetapi Ibnu Rawahah bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap :
“Kawan-kawan sekalian ! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan,kekuatan atau banyaknya jumlah ... ! Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah di muliakan Allah ... ! Ayolah kita maju ... ! salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah .. !”
            Dengan bersorak sorai kaum muslimin yang sedikit bilangannya,tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak : “Sungguh demi Allah, benar yang di bilang Ibnu Rawahah !
            Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil di himpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.
            Kedua pasukan balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya. Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, di susul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kebesaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanan Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membanjiri laksana air bah, yang berhasil di himpun oleh Heraklius untuk maksud ini.
            Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan, yang akan di mintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi, seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru :
“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat, engkau menolak surga ...
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh,kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti ..
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati .. !”
(maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
            “Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah kesatria sejati ...!” Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari ini adalah saat janjinya akan ke surga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya,hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi lonceng keberangkatan sudah berdenting, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid.
            Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya :
“Hingga di katakan, yaitu bila mereka melewati mayatku: Wahai prajurit perang yang di pimpin Allah,dan benar ia telah terpimpin !”
“Benar engkau ya Ibnu Rawahah .. ! Anda adalah seorang prajurit yang telah di pimpin oleh Allah .. !”
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah, sambil mempercakapkan merekka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang dan tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh di sebabkan rasa duka dan belas kasihan ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata :”Panji perang di pegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid.. Kemudian di ambil alih oleh Ja’far,dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula .. “Beliau berdiam sebentar lalu di teruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu di pegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu,sampai akhirnya ia pun syahid pula.”
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya,menyinarkan kegembiraan,ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga di angkatkan ke tempatku ke surga.”
Perjalanan mana lagi yang lebih mulia ...
Kesepakatan mana lagi yang lebih berharga ...
Mereka maju ke medan laga bersama-sama ...
Dan mereka naik ke surga bersama-sama pula ...
Dan penghormatan yang di berikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi ialah ucapan Rasulullah saw yang berbunyi : “Mereka telah di angkatkan ke tempatku ke surga.” (Khalid Muhammad Khalid, 2006 :336-339)
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari kisah tersebut bahwasannya kita harus menjadikan diri kita pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan hanya pemimpin yang duduk tenang melihat bawahannya sedang kesusahan. Akan tetapi mereka maju untuk menyelamatkan bawahannya. Mengedepankan kesejahteraan bawahannya, dan terjun bersama-sama untuk menyelesaikan suatu masalah. Sangat susah sekali di zaman sekarang ini mencari pemimpin yang seperti ini, pemimipin di zaman sekarang malah bersembunyi di belakang bawahannya. Mereka takut menghadapi sesuatu, padahal sudah jelas kelak pemimpin akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Point yang kedua, tidak semua penyair adalah orang yang menyesatkan, selagi dia beriman, berbuat kebajikan, dan mengingat Allah. Mereka bersyair untuk memberikan motivasi kepada oranglain agar mereka tidak takut untuk berjuang di jalan Allah. seperti slogan Abdullah Ibnu Rawahah r.a :
Wahai diri ...
Jika kau tidak gugur di medang juang ...
Kau akan tetap akan mati ...
Walau di atas ranjang ...

KEDAHSYATAN SHOLAWAT



Firman Allah :
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersholawat pada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bacalah sholawat dan salam pada Nabi saw dengan sesungguhnya.
Tiap hari ,tiap bulan bahkan tiap tahun kita boleh memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kita bersyukur di pilih Allah menjadi umat Nabi Muhammad saw, menjadi pengagum Nabi saw.

Ya Nabii salam alaik .. Ya Rasul salam alaik..
Dari Abdullah bin Amr bin Ash,ia mendengar Rasul saw bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلآَةً صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ بِهأَ عَشْرًا (رؤاه مسلم)
Artinya :”Barang siapa bersholawat kepadaku satu kali,pasti Allah merahmatinya 10x.” (HR.Muslim) (Al-Hafidh Masrap Suhaemi, 1986: 671)
Nabi saw bersabda :
مَنْ صَلَّ عَلَيِّ عَشْرًا اِذَا اَصْبَحَ وَ عَشْرًا اِذَا اَمْسَى آمَنَهُ اَللهُ تَعَآ لى مِنَ الْفَزَعِ الآَكْبَرِ يَوْمَ الْقِيَآمَةِ وَ كاَنَ مَعَ الّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيّيْنَ وَ الصّدِّيْقِيْنَ 
“Barang siapa membaca sholawat untuk aku sepuluh kali di waktu pagi dan sepuluh kali di waktu senja,di amankan oleh Allah dari ketakutan terbesar di hari qiamat dan di jajarkan oleh Allah bersama mereka yang telah di anugerahi nikmat-Nya dari para Nabi-nabi dan para Shiddiqin (Zubdatul Waa’izhiin).” (Salim Bahreisy, TT: 151-152)
Karena cinta kita semua kepada Nabi Muhammad maka kita mengadakan peringatan maulid Nabi, membaca sholawat bukan hal yang sia-sia, ketika kita kagum terhadap Nabi saw, kita berarti mendaftarkan diri selamat hidup di dunia dan akhirat.
Allah tidak akan memberikan satu hukuman kepada sebuah kaum, kepada sebuah negara, kepada seseorang jika engkau Muhammad ada di tengah-tengah mereka, dan Allah tidak akan memberikan satu hukuman, kepada sebuah kaum, kepada sebuah negara, kepada seseorang jika di antara mereka ada yang mau membaca istighfar.

Firman Allah : Ar-Rum :41
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
Tiap malapetaka di dalam dunia, itu semua karena ulah manusia. Betapa banjir melanda merusak tanaman, mengapa gempa melanda, dan membawa korban, tanyakan dirimu.
Allah tidak mmberi musibah, jika di tengah-tengah ada Nabi saw,  cara menghadirkan Nabi saw yakni dengan membaca sholawat, mengadakan peringatan maulid Nabi, kita praktek melaksanakn sunnahnya Nabi. jika kita seperti itu, insyaAllah musibah tidak datang dan masalah akan bisa di hadapai.
مَنْ اَحَبَّ شَيْءً اَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ
“Barang siapa mencintai barang sesuatu ia akan selalu menyebutnya.” (H.Salim Bahreisy, TT: 153)
Oleh karena itu, barang siapa yang mencintai Allah, maka ia akan selalu mengingat Allah, dan barang siapa yang mencintai Rasulullah, maka ia akan memperbanyak sholawat untuk Rasulnya.
Ajarkan anak kalian 3 perkara :
Cinta Nabi, cinta keluarga Nabi, cinta Al-quran, maka tidak akan ada anak berani kepada orangtua jika nabi di datangkan ke tengah tengah mereka. insyaAllah ..
Nabi saw bersabda : Tiga macam orang yang akan mendapat naungan Allah azza wa jalla , pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. Maka di tanya : siapakah mereka itu ya Rasulullah? jawab Nabi saw :siapa yang meringankan kesukaran seorang dari ummatku, dan siapa yang menghidupkan sunnahku, dan siapa yang banyak membaca sholawat padaku (untukku). (Salim Bahreisy, TT: 430)
Siapa yang ingin berhasil hajatnya, hilang masalahnya , hilang musibahnya, selamat hidupnya, maka ikhtiar dengan sungguh-sungguh, brdo’a dengan mantap, dan di dorong sholawat nabi.