Tikk
... Tikk ... Tikk ... Hujan kembali datang. 3 gadis menunggu perkuliahan dengan
saling berbagi pengalaman. Ckriikk, Ckriiikk, suara salah satu gadis bertubuh
mungil sedang asyik berfoto. Ya ampun, mesti mbak iki foto, “Ungkap Rahma
dengan nada heran”.

Ayoo mbak makan, aku sudah lapar,
“Ucap wanita berbaju motif bunga”. Temanku satunya pun masih asyik dengan
handphone. Yaaaaa maklumlah dia asyik dengerin lagu favoritnya. Sepotong ayam
dan tahupun menjadi santapan di pagi hari ini. Karena laparnya, wanita manis
tersebut lahap menyantap makanannya. 20 menit berlalu.
Allahu
Akbar .. Allahu Akbar, terdengar suara adzan berkumandang, kami bertiga segera
mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat berjama’ah. Selesai melaksanakan
sholat, kami bergegas meninggalkan kos menuju gedung A fakultas dakwah dan
komunikasi. Tikk.. Tik ... Tikk ... Ketika aku, Nafis, dan Fajriyah akan
melangkahkan kaki keluar pagar kos ternyata hujan belum reda. Loh gimana ini hujan? nanti aja ya
berangkatnya? “Ucap wanita berkerudung coklat sambil memandangku.” Sudahlah
kita lari saja, “Jawab Nafis”. Ayolah kita berangkat, tambahku kepada mereka. Ria
bergegas mengendarai supra kesayangannya dan aku berjalan dengan iringan hujan
menuju kelas tercinta bersama wanita berkerudung biru.
Di samping fakultas dakwah dan komunikasi,
langkahpun terhenti karena gadis berkerudung merah menarik tasku. Loh Te !!!
Sudah sembuh? “tanyaku kepadanya sambil menjabat tanganya”. Alhamdulillah,
do’akan saja Te ungkapnya. Kamipun
melanjutkan perjalanan menaiki tangga demi tangga hingga sampai di depan ruang
D1.211.
Terlihat
sosok laki-laki berkacamata asyik dengan gagetnya sedang duduk di bangku
panjang depan kelas. Ku tengok kelas yang masih sepi tidak berpenghuni. Ku
nyalakan lampu dan akupun memilih tempat duduk di bangku kedua dekat dinding.
Nitra
mengeluarkan sebungkus roti dari tas hitam kesayangannya, dia memotong dan
memberikan potongan yang lain kepada Fajriyah. Ini Fis, ini Mbak buat pean
(sambil menyodorkan roti coklat itu). Sepotong berdua aja, kebanyakan kalau
porsiku, “Ungkapku kepada gadis berbaju kuning.” Tanpa berfikir lama, gadis
berhidung pesekpun berbagi rotinya denganku. Kami memakannya dengan bersenda
gurau.
6
menit bersilam, dosen berkacamata memasuki ruangan dengan menatap 6 mahasiswa
yang berada di dalam kelas. Assalamu’alaikum ... Farid sini, mana nomer ayahmu?
saya mau telfon. Pria berjaket abu-abu tersebut berjalan menghampiri Prof Ali
dengan langkah sedikit gugup. Ini pak, sambil memberikan handphone kepada dosen
Teknik Khitobah II. Ternyata ayah pria tersebut tidak bisa di hubungi, sehingga
telefon di alihkan kepada ibu pria itu.
Assalamu’alaikum
Wr. Wb, bu ini saya Moh. Ali Aziz dosen dari putra ibu. Anak ibu ini cerdas, tetapi dia tidak pernah
mengumpulkan tugasnya. Setiap mengikuti matakuliah saya, dia tidak lulus. Minta
tolong sama ibu, jika waktunya kuliah, ibu ingatkan suruh berangkat, “Ungkap
dosen berwibawa.” Maaf pak, Farid kalau di rumah tidur, ketika ditanya jawabnya
tidak ada kuliah. Tugasnya apa saja pak?,” Tanya wali dari mas Miftah Farid.”
Banyak sekali bu tugasnya, teman-teman yang lain bersorak-sorak, putra ibu
menyendiri. Saya ingin tahu apa permasalahannya. Mungkin sehari atau duahari
izinkan Farid tidur di kos temannya untuk belajar bersama, kasihan putra ibu,
teman-temannya sudah lulus tapi anak ibu belum. Saat itupun laki-laki bertas
hitam menundukkan kepalanya di atas meja.

Rid, kamu berapa kali tidak masuk?
3x Prof, jawab Pria bersepatu abu-abu dengan suara lirih. Kamu kan tau kita
sudah perjanjian jika 2x tidak hadir, maka harus mengundurkan diri dari
matakuliah ini. Bu, sudahlah Farid ini juga anak saya, masalah absen saya
maafkan tetapi untuk tugas harus di kumpulkan. Tiba-tiba telfon berdurasi ±7
menit terputus dengan sendirinya. Pria pembawa buku hijau itupun kembali ke
tempat duduknya dengan rasa penyesalan.
Hee... Kalian ini jangan diam saja, tapi tulis !! Imajinasi dan ingatan
lemah, maka dari itu bulpoin tidak boleh berhenti, amati dengan seksama.“Perintah
dosen berkaos kaki hitam tersebut dengan membuka absen”.
Sudah kuliah ke Pak Faqih? belum
pak, serentak mahasiswa menjawab. Sudah ada yang ikut ke radio? giliran pak,
“jawab Diana dari bangku belakang”. Di meja dosen terlihat 3 tumpukan buku,
dari jarak 6 meter akupun tidak bisa membaca judulnya. Akupun masih penasaran
dengan buku itu, ku pertajam lagi pandanganku, tetapi tetap tidak bisa terbaca.
Suasana kelas ini sangat bersahabat meskipun masih 12 mahasiswa yang datang.
Profesor bersabuk hitam menyerahkan absen kepada Ratu.
Saya sudah membaca tulisan kalian.
Tulisan kalian semakin bagus, tepuk tangan untuk kalian semua. Prof, tulisan
saya di kritik oleh pembaca, “Ungkap Syamsuriyanto”. Tidak apa-apa, di kritik
itu hal biasa, bersyukurlah ada yang mau membaca tulisanmu, “jawab motivator
berkemeja putih garis”.
Ketika akan menjelaskan, Prof
mengambil salah satu buku di antara tumpukan buku yang lain. Ada buku menarik
karya John Kralik, judulnya: 365 Thamk Yous The Year The Simple Act Of Daily
Gratitude Changed My Life. (Sambil menulis di papan, beliau membacakannya).

Dosen tersebut berjalan mendekat ke
bangku pertama dengan tersenyum. Dalam buku ini menjelaskan bagaimana penulis
sukses karena setiap hari menulis terimakasih kepada orang yang berjasa
kepadanya.
Fajriyah, ayo baca judulnya sambil
menunjukkan buku tersebut. Ria pun menjawab dengan suara pelan karena takut.

Assalamu’alaikum ... Suara
segerombolan mahasiswa memasuki kelas. Kamu telat Hisyam? Ayo yang telat ruku’
300x. Ruku’ 150x, sujud 150x. Prof memerintahkan dengan menutup pintu yang
terbuka. Hisyam, Hakim, Faizin, Handika, dan Mas Irfan segera menaruh tas dan
melaksanakan perintah di dekat meja dosen. Saat itu, Mas Irfan memakai sandal
karena hujan, tetapi untungnya dia membawa sepatu yang di masukkan ke dalam
tasnya.

Dika dan Hakim berada di posisi
depan, sedangkan 3 yang lainnya di belakang. Ketika ruku’ laki-laki berkemeja
abu-abu senyum-senyum karena malu terlambat. Iyaaaa ini seperti sholat
berjama’ah gumamku. Ketika akan sujud, Hisyampun tertawa dan memegang sakunya
untuk mengambil handephone.

Profesor penuh semangat tersebut
melanjutkan penjelasannya. Penulis buku tadi menulis surat ke dokternya. Dia
mengucapkan terimakasih karena sudah merawatnya, dokter tersebut bahagia dan
membalas surat itu. Dokter berkata bahwa dia pasien pertama yang memberi
apresiasi seperti ini. Dokternya seneng tidak Nit?,” Tanya Dosen berjamtangan
putih kepada Ninit yang duduk tepat di hadapanku”. Kemudian melontarkan
pertanyaan yang sama kepada Ahmad Zain.” Senyum manusia, senyum Tuhan”.
Nit kamu sakit?, “Tanya dosen
penulis buku Terapi Sholat Bahagia. Iya prof, “jawabnya dengan nada lirih”.
Sudah ke dokter? Di kasih obat apa?, sudah Prof, Mylanta. Penyakit lambung
sangat erat kaitannya dengan ketegangan, “Ungkap dosen idolaku”. Tadi saya
bilang ke Fathur, kalau saya datang telat karena harus cabut gigi. Dokter
profesional tanya kepada saya, “Bapak stres banyak fikiran?” Kok tau,
jawabku. Dokter itupun menjawab iya kelihatan dari darahnya. Saya ini trainer
tapi saya tidak bisa tawakkal, akhirnya saya menyandarkan diri ke kursi sambil
berdo’a: Ya Allah .. Tidak apa-apa gigi saya sakit di cabut, tetapi waktu aku
memejamkan mata, datangkanlah Rasulullah untung memandang wajahku. Kemudian
darah keluar lagi dan berubah menjadi darah orang yang tenang. Saya mengambil
kesimpulan bahwa kesedihan mempengaruhi darah, “Penjelasan beliau sambil
berdiri di depan bangku kosong”.
Terimakasih Prof hukuman sujud sama
rukuknya, luar biasa, “Ucap salah satu mahasiswa dari belakang Prof Ali.
Dosenwali sayapun melanjutkan penjelasannya. Tuhan senang ketika kita
menghargai jasa orang lain, ketika kita menghargai oranglain, maka Allah akan
membahagiakan kita.
Din, kamu pernah ikut lomba lari?
Tidak prof karena kegemukan, jawab cewek berkerudung merah tersebut. Sontak
suasana kelas menjadi ricuh karena suara tawa teman-teman. Ketika semua sudah
terdiam, gadis bersepatu pich tersebut melanjutkan tertawanya. Dalam lomba lari, teman penulis bertanya: Kamu
tau gubernur tidak? Itu gubernur disitu, ayo kita mendekat. Hanya karena hal
sepeleh seperti itu, John Kralik menulis ucapan terimakasih karena telah
menunjukkan gubernur.
3 menit bersilam, Riko memasuki
ruangan. Ayo kamu sujud. Tanpa berfikir lama, diapun melaksanakan.

Allah itu sifatnya “Syakur”, Prof
menulis di papan dengan tinta biru menggunakan tulisan arab tanpa syakal.
Artinya, Allah itu paling menghargai. Trisno, usiamu berapa? “Tanya guru besar
UINSA”. 15 Prof, eh 20. Semua tertawa karena laki-laki berkemeja levis lupa
usianya sendiri. Seharusnya dari 15 tahun yang lalu, kamu menulis ucapan
terimakasih. 365X15 berapa? ayo samrotul hitung. Diapun langsung mengeluarkan
handphone dan menjawab 5.475 Prof. Jika kamu Tris sudah nulis terimakasih maka
kamu akan lebih bahagia dari hari ini. Siapa Tris yang sudah kamu beri ucapan
terimakasih?, orangtua Prof jawabnya. Berarti 5.475-2= 5.473.
Ini adalah bagian cara hidup saya,
“Ungkap Dosen bersepatu ala militer sambil membawa bulpoin”. Ada B u Sri dari
Taiwan mengundang saya, di facebooknya saya menulis ucapan terimakasih karena
bisa di undang ke Taiwan bersama istri. Akhirnya sayapun di undang lagi, dan
idul adha tahun ini saya di minta kesana, karena beliau bicara jika bukan saya,
mending tidak idul adha. Subhanallah dosen sekaligus ustadz yang luar biasa !!
Azkiya, kamu sudah mengucapkan
terimakasih kepada siapa? dengan menatap beliau, akupun menjawab orangtua Prof
lewat biografi yang saya tulis. Tapi di baca Az? “tanya beliau”, iya Prof
setiap saya menulis pasti di baca. Subhanallah ... Luar biasa, terus siapa
lagi? “Lanjut Motivator luar biasa itu”. Salah satu guru MA, dan Nafis, ketika
dia habis menasehati, saya selalu ucapkan terimakasih. Ketika aku menyebut
namanya, cewek berbaju biru senyum sambil menatapku. Jadi 5.475-4= 5.471. Andai
sudah kamu lakukan berterimakasih kepada semua orang itu, pasti kuliah kamu
tidak disini Az, seharusnya sudah di Mesir. (Akupun merasa terharu mendengar
hal tersebut).

Kim, tulis ayat yang menjelaskan
tentang syukur. Diapun maju kedepan, 8 detik bersilam dia belum menulis karena
sibuk mencari ayatnya di handphone. Diapun di suruh duduk kembali karena
terlalu lama. Orang menafsiri syukur belum sampai medalam, ketika kita bisa
menafsirkan hingga sedetail mungkin, maka Allah akan merubah hidupmu karena
kamu gratitude.

Nafis menggerakkan tangan sehingga
menarik perhatian. Capek ya? Lohkan Azka juga sudah bunyi tangannya, yasudah
istirahat dulu, “perintah penulis hebat tersebut dengan meletakkan ibu jarinya
ke dalam saku”. Jeda ini di manfa’atkan Diana dan Ulfi untuk permisi keluar.
Azka kira-kira berapa halaman kamu nulis? 7 lebih Prof jawabku. Dosen mantan
dekan fakultas dakwah dan komunikasi menarik kursi, dan berpesan: Ingat jasa
orang sekecil apapaun dan lupakan kesalahan orang sebesar apapun.
Beliau bercerita, bahwa dulu beliau
di suruh mengajar bahas inggris di salah satu SMA dengan gaji 35rb perbulan.
Lalu beliau menikah, dan pemilik sekolah yang kebetulan orang katolik
mengucapkan selamat. Ketika istri saya hamil, beliaupun menjabat tangan saya
dan mengucapkan selamat. Ini luar biasa, tidak semua orang seperti ini. Saya di
angkat menjadi dosen dan belajar Bahasa inggris 3 tahun di jakarta, di SMA yang
saya ajar mengadakan upacara keberangkatan saya, sedangkan yang memberangkatkan
saya tidak mau tahu bahkan sama sekali tidak bertanya. Ada cerita lagi ketika
saya mengundurkan diri jadi guru, saya di ajak ke TP lantai 10 sebagai ucapan
salam perpisahan dan terimakasih karena telah menyumbangkan ilmu untuk anak
didiknya. Prof berpesan: Kalian semua anak saya, kalian punya tugas merubah
kesimpulan ini: “semakin santri, semakin berkurang rasa terimakasih.
Mudah-mudahan kalian bisa merubah.
Salah satu karyawan BCA yang pernah
mengikuti praktek terapi sholat bahagia di telfon oleh penulis bukunya.
karyawan tersebut merasa sngat senang dan berkata bahwa ustadz luar biasa. Dimana
konsep gratitude ini di dalam sholat? “tanya Dosen keren ini kepada
mahasiswanya”. Al-fatihah Prof, entah suara siapa yang menjawab. Ayo Irfan baca
surat Al-fatihah sambil di hitung. Mas Irfanpun mengulang 2x bacaan tersebut
karena ketika memakai basmalah jumlahnya 7, dan tanpa basmalahpun jumlahnya.
Sholat tidak akan sah jika Al-Fatihah kita tidak sab’ul matsaani.
Istri paling bahagia ketika
mempunyai suami berkpribadian hamdalah, yakni tidak pelit penghargaan.
Alhamdulillah adalah pesan Allah sebagai pribadi yang baik. Sekarang tulis
point yang sudah kalian dapatkan. Ndak bawa laptop Prof,” Sahut Baiti”. Jangan
jadikan itu sebagai penghalang. Silahkan di tulis di kertas, di Hp, dimanapun
yang terpenting kalian menulis. Saya mau mendengar tulisan kalian, mulai Nit
kamu dulu. Hilang Prof tulisannya belum saya save. Akhirnya Prof menyuruh
Diana, dilanjutkan Baity, Handika, Mas Irfan, dan Samrotul. Sambil melanjutkan
menulis, kita semuapun bergantian foto dengan Profesor Idolaku. Saat giliranku
tiba, aku merasa terharu karena sebenarnya sudah lama saya ingin foto dengan
beliau. Rasa bahagia ini tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata karena aku
bisa berfoto dengan orang hebat seperti beliau. Semoga aku bisa sukses seperti
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Selesai bergantian berfoto, dosen
teknik khitobah II inipun terus memotivasi mahasiswanya. Kalian ini unik,
kenapa melongo aja dengan enaknya meninggalkan bulpoin dari genggaman, “Ungkap
penulis buku ilmu pidato itu”. Hanyuuuuuuut Prof dengan ceritanya, “sahut
dengan serempak”. Ya sudah kita akhiri perkuliahan hari ini. Akhirnya beliaupun
meninggalkan ruangan, dan inilah perkuliahan yang luar biasa.
hampir setiap hari hujan ya mbk,,
BalasHapussemangat dalam mencari ilmu :D