Selasa, 28 April 2015

Changed My Life


Tikk ... Tikk ... Tikk ... Hujan kembali datang. 3 gadis menunggu perkuliahan dengan saling berbagi pengalaman. Ckriikk, Ckriiikk, suara salah satu gadis bertubuh mungil sedang asyik berfoto. Ya ampun, mesti mbak iki foto, “Ungkap Rahma dengan nada heran”.
            Ayoo mbak makan, aku sudah lapar, “Ucap wanita berbaju motif bunga”. Temanku satunya pun masih asyik dengan handphone. Yaaaaa maklumlah dia asyik dengerin lagu favoritnya. Sepotong ayam dan tahupun menjadi santapan di pagi hari ini. Karena laparnya, wanita manis tersebut lahap menyantap makanannya. 20 menit berlalu.
Allahu Akbar .. Allahu Akbar, terdengar suara adzan berkumandang, kami bertiga segera mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat berjama’ah. Selesai melaksanakan sholat, kami bergegas meninggalkan kos menuju gedung A fakultas dakwah dan komunikasi. Tikk.. Tik ... Tikk ... Ketika aku, Nafis, dan Fajriyah akan melangkahkan kaki keluar pagar kos ternyata hujan belum reda.  Loh gimana ini hujan? nanti aja ya berangkatnya? “Ucap wanita berkerudung coklat sambil memandangku.” Sudahlah kita lari saja, “Jawab Nafis”. Ayolah kita berangkat, tambahku kepada mereka. Ria bergegas mengendarai supra kesayangannya dan aku berjalan dengan iringan hujan menuju kelas tercinta bersama wanita berkerudung biru.
 Di samping fakultas dakwah dan komunikasi, langkahpun terhenti karena gadis berkerudung merah menarik tasku. Loh Te !!! Sudah sembuh? “tanyaku kepadanya sambil menjabat tanganya”. Alhamdulillah, do’akan saja Te  ungkapnya. Kamipun melanjutkan perjalanan menaiki tangga demi tangga hingga sampai di depan ruang D1.211.
Terlihat sosok laki-laki berkacamata asyik dengan gagetnya sedang duduk di bangku panjang depan kelas. Ku tengok kelas yang masih sepi tidak berpenghuni. Ku nyalakan lampu dan akupun memilih tempat duduk di bangku kedua dekat dinding.
Nitra mengeluarkan sebungkus roti dari tas hitam kesayangannya, dia memotong dan memberikan potongan yang lain kepada Fajriyah. Ini Fis, ini Mbak buat pean (sambil menyodorkan roti coklat itu). Sepotong berdua aja, kebanyakan kalau porsiku, “Ungkapku kepada gadis berbaju kuning.” Tanpa berfikir lama, gadis berhidung pesekpun berbagi rotinya denganku. Kami memakannya dengan bersenda gurau.
6 menit bersilam, dosen berkacamata memasuki ruangan dengan menatap 6 mahasiswa yang berada di dalam kelas. Assalamu’alaikum ... Farid sini, mana nomer ayahmu? saya mau telfon. Pria berjaket abu-abu tersebut berjalan menghampiri Prof Ali dengan langkah sedikit gugup. Ini pak, sambil memberikan handphone kepada dosen Teknik Khitobah II. Ternyata ayah pria tersebut tidak bisa di hubungi, sehingga telefon di alihkan kepada ibu pria itu.
Assalamu’alaikum Wr. Wb, bu ini saya Moh. Ali Aziz dosen dari putra ibu.  Anak ibu ini cerdas, tetapi dia tidak pernah mengumpulkan tugasnya. Setiap mengikuti matakuliah saya, dia tidak lulus. Minta tolong sama ibu, jika waktunya kuliah, ibu ingatkan suruh berangkat, “Ungkap dosen berwibawa.” Maaf pak, Farid kalau di rumah tidur, ketika ditanya jawabnya tidak ada kuliah. Tugasnya apa saja pak?,” Tanya wali dari mas Miftah Farid.” Banyak sekali bu tugasnya, teman-teman yang lain bersorak-sorak, putra ibu menyendiri. Saya ingin tahu apa permasalahannya. Mungkin sehari atau duahari izinkan Farid tidur di kos temannya untuk belajar bersama, kasihan putra ibu, teman-temannya sudah lulus tapi anak ibu belum. Saat itupun laki-laki bertas hitam menundukkan kepalanya di atas meja.
            Rid, kamu berapa kali tidak masuk? 3x Prof, jawab Pria bersepatu abu-abu dengan suara lirih. Kamu kan tau kita sudah perjanjian jika 2x tidak hadir, maka harus mengundurkan diri dari matakuliah ini. Bu, sudahlah Farid ini juga anak saya, masalah absen saya maafkan tetapi untuk tugas harus di kumpulkan. Tiba-tiba telfon berdurasi ±7 menit terputus dengan sendirinya. Pria pembawa buku hijau itupun kembali ke tempat duduknya dengan rasa penyesalan.  Hee... Kalian ini jangan diam saja, tapi tulis !! Imajinasi dan ingatan lemah, maka dari itu bulpoin tidak boleh berhenti, amati dengan seksama.“Perintah dosen berkaos kaki hitam tersebut dengan membuka absen”.
            Sudah kuliah ke Pak Faqih? belum pak, serentak mahasiswa menjawab. Sudah ada yang ikut ke radio? giliran pak, “jawab Diana dari bangku belakang”. Di meja dosen terlihat 3 tumpukan buku, dari jarak 6 meter akupun tidak bisa membaca judulnya. Akupun masih penasaran dengan buku itu, ku pertajam lagi pandanganku, tetapi tetap tidak bisa terbaca. Suasana kelas ini sangat bersahabat meskipun masih 12 mahasiswa yang datang. Profesor bersabuk hitam menyerahkan absen kepada Ratu.
            Saya sudah membaca tulisan kalian. Tulisan kalian semakin bagus, tepuk tangan untuk kalian semua. Prof, tulisan saya di kritik oleh pembaca, “Ungkap Syamsuriyanto”. Tidak apa-apa, di kritik itu hal biasa, bersyukurlah ada yang mau membaca tulisanmu, “jawab motivator berkemeja putih garis”.
            Ketika akan menjelaskan, Prof mengambil salah satu buku di antara tumpukan buku yang lain. Ada buku menarik karya John Kralik, judulnya: 365 Thamk Yous The Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life. (Sambil menulis di papan, beliau membacakannya).
            Dosen tersebut berjalan mendekat ke bangku pertama dengan tersenyum. Dalam buku ini menjelaskan bagaimana penulis sukses karena setiap hari menulis terimakasih kepada orang yang berjasa kepadanya.
            Fajriyah, ayo baca judulnya sambil menunjukkan buku tersebut. Ria pun menjawab dengan suara pelan karena takut.
            Assalamu’alaikum ... Suara segerombolan mahasiswa memasuki kelas. Kamu telat Hisyam? Ayo yang telat ruku’ 300x. Ruku’ 150x, sujud 150x. Prof memerintahkan dengan menutup pintu yang terbuka. Hisyam, Hakim, Faizin, Handika, dan Mas Irfan segera menaruh tas dan melaksanakan perintah di dekat meja dosen. Saat itu, Mas Irfan memakai sandal karena hujan, tetapi untungnya dia membawa sepatu yang di masukkan ke dalam tasnya.
            Dika dan Hakim berada di posisi depan, sedangkan 3 yang lainnya di belakang. Ketika ruku’ laki-laki berkemeja abu-abu senyum-senyum karena malu terlambat. Iyaaaa ini seperti sholat berjama’ah gumamku. Ketika akan sujud, Hisyampun tertawa dan memegang sakunya untuk mengambil handephone.
            Profesor penuh semangat tersebut melanjutkan penjelasannya. Penulis buku tadi menulis surat ke dokternya. Dia mengucapkan terimakasih karena sudah merawatnya, dokter tersebut bahagia dan membalas surat itu. Dokter berkata bahwa dia pasien pertama yang memberi apresiasi seperti ini. Dokternya seneng tidak Nit?,” Tanya Dosen berjamtangan putih kepada Ninit yang duduk tepat di hadapanku”. Kemudian melontarkan pertanyaan yang sama kepada Ahmad Zain.” Senyum manusia, senyum Tuhan”.
            Nit kamu sakit?, “Tanya dosen penulis buku Terapi Sholat Bahagia. Iya prof, “jawabnya dengan nada lirih”. Sudah ke dokter? Di kasih obat apa?, sudah Prof, Mylanta. Penyakit lambung sangat erat kaitannya dengan ketegangan, “Ungkap dosen idolaku”. Tadi saya bilang ke Fathur, kalau saya datang telat karena harus cabut gigi. Dokter profesional tanya kepada saya, “Bapak stres banyak fikiran?” Kok tau, jawabku. Dokter itupun menjawab iya kelihatan dari darahnya. Saya ini trainer tapi saya tidak bisa tawakkal, akhirnya saya menyandarkan diri ke kursi sambil berdo’a: Ya Allah .. Tidak apa-apa gigi saya sakit di cabut, tetapi waktu aku memejamkan mata, datangkanlah Rasulullah untung memandang wajahku. Kemudian darah keluar lagi dan berubah menjadi darah orang yang tenang. Saya mengambil kesimpulan bahwa kesedihan mempengaruhi darah, “Penjelasan beliau sambil berdiri di depan bangku kosong”.
            Terimakasih Prof hukuman sujud sama rukuknya, luar biasa, “Ucap salah satu mahasiswa dari belakang Prof Ali. Dosenwali sayapun melanjutkan penjelasannya. Tuhan senang ketika kita menghargai jasa orang lain, ketika kita menghargai oranglain, maka Allah akan membahagiakan kita.
            Din, kamu pernah ikut lomba lari? Tidak prof karena kegemukan, jawab cewek berkerudung merah tersebut. Sontak suasana kelas menjadi ricuh karena suara tawa teman-teman. Ketika semua sudah terdiam, gadis bersepatu pich tersebut melanjutkan tertawanya.  Dalam lomba lari, teman penulis bertanya: Kamu tau gubernur tidak? Itu gubernur disitu, ayo kita mendekat. Hanya karena hal sepeleh seperti itu, John Kralik menulis ucapan terimakasih karena telah menunjukkan gubernur.
            3 menit bersilam, Riko memasuki ruangan. Ayo kamu sujud. Tanpa berfikir lama, diapun melaksanakan.
            Allah itu sifatnya “Syakur”, Prof menulis di papan dengan tinta biru menggunakan tulisan arab tanpa syakal. Artinya, Allah itu paling menghargai. Trisno, usiamu berapa? “Tanya guru besar UINSA”. 15 Prof, eh 20. Semua tertawa karena laki-laki berkemeja levis lupa usianya sendiri. Seharusnya dari 15 tahun yang lalu, kamu menulis ucapan terimakasih. 365X15 berapa? ayo samrotul hitung. Diapun langsung mengeluarkan handphone dan menjawab 5.475 Prof. Jika kamu Tris sudah nulis terimakasih maka kamu akan lebih bahagia dari hari ini. Siapa Tris yang sudah kamu beri ucapan terimakasih?, orangtua Prof jawabnya. Berarti 5.475-2= 5.473.
            Ini adalah bagian cara hidup saya, “Ungkap Dosen bersepatu ala militer sambil membawa bulpoin”. Ada B u Sri dari Taiwan mengundang saya, di facebooknya saya menulis ucapan terimakasih karena bisa di undang ke Taiwan bersama istri. Akhirnya sayapun di undang lagi, dan idul adha tahun ini saya di minta kesana, karena beliau bicara jika bukan saya, mending tidak idul adha. Subhanallah dosen sekaligus ustadz yang luar biasa !!
            Azkiya, kamu sudah mengucapkan terimakasih kepada siapa? dengan menatap beliau, akupun menjawab orangtua Prof lewat biografi yang saya tulis. Tapi di baca Az? “tanya beliau”, iya Prof setiap saya menulis pasti di baca. Subhanallah ... Luar biasa, terus siapa lagi? “Lanjut Motivator luar biasa itu”. Salah satu guru MA, dan Nafis, ketika dia habis menasehati, saya selalu ucapkan terimakasih. Ketika aku menyebut namanya, cewek berbaju biru senyum sambil menatapku. Jadi 5.475-4= 5.471. Andai sudah kamu lakukan berterimakasih kepada semua orang itu, pasti kuliah kamu tidak disini Az, seharusnya sudah di Mesir. (Akupun merasa terharu mendengar hal tersebut).
            Kim, tulis ayat yang menjelaskan tentang syukur. Diapun maju kedepan, 8 detik bersilam dia belum menulis karena sibuk mencari ayatnya di handphone. Diapun di suruh duduk kembali karena terlalu lama. Orang menafsiri syukur belum sampai medalam, ketika kita bisa menafsirkan hingga sedetail mungkin, maka Allah akan merubah hidupmu karena kamu gratitude.
            Nafis menggerakkan tangan sehingga menarik perhatian. Capek ya? Lohkan Azka juga sudah bunyi tangannya, yasudah istirahat dulu, “perintah penulis hebat tersebut dengan meletakkan ibu jarinya ke dalam saku”. Jeda ini di manfa’atkan Diana dan Ulfi untuk permisi keluar. Azka kira-kira berapa halaman kamu nulis? 7 lebih Prof jawabku. Dosen mantan dekan fakultas dakwah dan komunikasi menarik kursi, dan berpesan: Ingat jasa orang sekecil apapaun dan lupakan kesalahan orang sebesar apapun.
            Beliau bercerita, bahwa dulu beliau di suruh mengajar bahas inggris di salah satu SMA dengan gaji 35rb perbulan. Lalu beliau menikah, dan pemilik sekolah yang kebetulan orang katolik mengucapkan selamat. Ketika istri saya hamil, beliaupun menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Ini luar biasa, tidak semua orang seperti ini. Saya di angkat menjadi dosen dan belajar Bahasa inggris 3 tahun di jakarta, di SMA yang saya ajar mengadakan upacara keberangkatan saya, sedangkan yang memberangkatkan saya tidak mau tahu bahkan sama sekali tidak bertanya. Ada cerita lagi ketika saya mengundurkan diri jadi guru, saya di ajak ke TP lantai 10 sebagai ucapan salam perpisahan dan terimakasih karena telah menyumbangkan ilmu untuk anak didiknya. Prof berpesan: Kalian semua anak saya, kalian punya tugas merubah kesimpulan ini: “semakin santri, semakin berkurang rasa terimakasih. Mudah-mudahan kalian bisa merubah.
            Salah satu karyawan BCA yang pernah mengikuti praktek terapi sholat bahagia di telfon oleh penulis bukunya. karyawan tersebut merasa sngat senang dan berkata bahwa ustadz luar biasa. Dimana konsep gratitude ini di dalam sholat? “tanya Dosen keren ini kepada mahasiswanya”. Al-fatihah Prof, entah suara siapa yang menjawab. Ayo Irfan baca surat Al-fatihah sambil di hitung. Mas Irfanpun mengulang 2x bacaan tersebut karena ketika memakai basmalah jumlahnya 7, dan tanpa basmalahpun jumlahnya. Sholat tidak akan sah jika Al-Fatihah kita tidak sab’ul matsaani.
            Istri paling bahagia ketika mempunyai suami berkpribadian hamdalah, yakni tidak pelit penghargaan. Alhamdulillah adalah pesan Allah sebagai pribadi yang baik. Sekarang tulis point yang sudah kalian dapatkan. Ndak bawa laptop Prof,” Sahut Baiti”. Jangan jadikan itu sebagai penghalang. Silahkan di tulis di kertas, di Hp, dimanapun yang terpenting kalian menulis. Saya mau mendengar tulisan kalian, mulai Nit kamu dulu. Hilang Prof tulisannya belum saya save. Akhirnya Prof menyuruh Diana, dilanjutkan Baity, Handika, Mas Irfan, dan Samrotul. Sambil melanjutkan menulis, kita semuapun bergantian foto dengan Profesor Idolaku. Saat giliranku tiba, aku merasa terharu karena sebenarnya sudah lama saya ingin foto dengan beliau. Rasa bahagia ini tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata karena aku bisa berfoto dengan orang hebat seperti beliau. Semoga aku bisa sukses seperti Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
   
            Selesai bergantian berfoto, dosen teknik khitobah II inipun terus memotivasi mahasiswanya. Kalian ini unik, kenapa melongo aja dengan enaknya meninggalkan bulpoin dari genggaman, “Ungkap penulis buku ilmu pidato itu”. Hanyuuuuuuut Prof dengan ceritanya, “sahut dengan serempak”. Ya sudah kita akhiri perkuliahan hari ini. Akhirnya beliaupun meninggalkan ruangan, dan inilah perkuliahan yang luar biasa.

1 komentar:

  1. hampir setiap hari hujan ya mbk,,

    semangat dalam mencari ilmu :D

    BalasHapus