Selasa,
21 April 2015 ku lihat betapa semangatnya Bapak Addin Chadiri dalam menuntut
ilmu, bagaimana susah payahnya perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, betapa
banyak rintangan-rintangan yang di lewati. Dengan mengetahui kesungguhan dan
kegigihan beliau dalam menuntut ilmu, maka sayapun sangat termotivasi. Pukul
13:00 bapak tersebut memberikan materi tentang seorang presenter, ini pertemuan
kita yang kedua kalinya ya? “tanya bapak berwajah tampan tersebut”, iya pak
benar sekali, “jawab mahasiswa di ruang bercat cream tersebut.
Sebenarnya media televisi
membutuhkan seorang presenter yang tidak keluar dari koridor etika. Calon
presenter ketika mencoba microfone jangan di tiup karena itu adalah hal yang
tidak di benarkan. (Huff ... Huff ... Huff), “Suara bapak berkemeja putih
memberi contoh”. Mencoba microfone yang benar
cukup di ketuk dengan tangan (tuk ... tuk ... tuk). Karena dalam
microfon terdapat kain selapu tipis, jika di tiup terlalu keras akan sobek dan
mempengaruhi suara microfone.
Saya membawa contoh-contoh
rekaman talkshow tetapi karena Lcd tidak
bisa digunakan maka kita putar lain kali saja. Saya ingin memperlihatkan
bagaimana cara menjadi presenter ataupun narasumber, dan satu lagi yang saya
alami, seorang presenter harus bisa menyanyi, karena itu adalah hal yang jarang
di miliki oleh seorang presenter. Loh apa perlu? apa kaitannya presenter dengan
penyanyi? “ Gumamku dalam kediamanku”. Presenter dengan bernyanyi sangat erat
kaitannya, kita sepakat bahwa seseorang yang bisa bernyanyi berarti mampu
berucap dengan keindahan. Dia akan mengatur kata demi kata, kalimat demi
kalimat, sehingga melahirkan satu lagu yang enak kita dengar.
Ada satu contoh, misalnya
dalam acara inbox. Ketika sesi menebak judul lagu, lagu tersebut akan di bacakan
dengan nada datar dan kita menebak judulnya kemudian kita harus menyanyikannya.
Misalnya lagu: sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan (Bapak
bercelana hitam memberikan contoh dengan suara yang besar), nah itu kita harus
menebaknya. Ketika kita tidak mempunyai referensi, maka kita tidak akan bisa
menjawab. Tetapi ketika kita mengerti, kita akan mengacungkan tangan dan
menjawab bahwa judulnya: “ Sepanjang jalan kenangan,” coba anda nyanyikan:
sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan ( suara saya, Nitra
dan Baity menyanyikan lagu tersebut). Nah ini adalah salah satu contoh yang
simple. Kaitannya dengan presenter tadi, kalau kita tidak bernyanyi, maka kita
akan berbeda dengan presenter yang bisa bernyanyi ketika perform, hal itu sudah
saya rasakan. Ada teman 1 profesi dan kebetulan dia junior saya, sangat di
sayangkan sekali dia tidak bernyanyi padahal dia sangat terkenal. Berbicara
pastilah ada naik turunnya nada, kalau kita berbicara : saudara pemirsa,
selamat pagi, selamat berjumpa lagi dengan saya ( Bapak berkaos kaki hitam
memberi contoh dengan nada tanpa semangat), sontak kita semua terbahak-bahak. Itu
tidak enak di dengar, berbeda ketika kita berbicara dengan nada yang baik.
Orang yang mendengar akan menerima apa yang kita sampaikan.
Pesan saya, jangan ada
mahasiswa dari fakultas dakwah, yang pernah menerima ilmu ini berbicara dengan “Lion
Style”. misalnya: saudara pemirsa ee.. Selamat berjumpa lagi ee..
Dalam acara ee.. itu hindarkan. Cara menanggulanginya adalah dengan
menarik kalimat terakhir menjadi agak panjang. Di saat itu otak kita berputar
dan mulut menyiapkan apa yang akan kita ucapkan. Ketika kita memiliki kebiasaan
lion style, berarti otak kita sedang tidak fokus dengan sesuatu yang akan di
sampaikan. Mungkin semua yang ada disini tidak dapat berbicara dengan lancar.
Entah karena gangguan pada rongga mulut, sturuktur gigi atau lain sebagainya.
Oleh karena itu kita semua tidak sama. Tidak ada orang yang bertutur kata sama
persis antara satu dengan yang lainnya, karena nada dan pemenggalan kata setiap
orang berbeda.
Terkadang ada orang yang tidak
membuka mulut, tetapi artikulasinya sangat jelas. Kalau kita sudah membuka
mulut tetapi artikulasi tidak jelas, nah ini yang menjadi suatu permasalahan.
Mungkin ada kendala, oleh karena itu banyaklah berlatih A-I-U-E-O, A-I-U-E-O. Selain itu berbicaralah yang keras, kalian
bisa berlatih dengan pergi ke kenjeran tetapi dengan niat yang positif, atau
yang lebih bagus pergilah ke tanjung kodok. Di tengah gemuruh ombak anda
membaca naskah dengan jarak 100 meter dari teman anda. Itu adalah salah satu
cara untuk melonggarkan pita suara. Ketika saya mempunyai waktu luang, saya pergi
karaoke 2 jam, ini bukanlah hal yang negatif tetapi ini merupakan kebutuhan
bagi saya. Disana saya bernyanyi sendiri dengan menyanyikan lagu bernada
tinggi, setelah keluar dari tempat karaoke, suara sayapun serak, tetapi ketika
sembuh, suara saya akan meningkat 1 oktaf. “Assalamu’alaikum, permisi pak mau
mengembalikan laptop”, suara wanita bebrbaju biru dari luar ruangan memasuki
kelas. “Wa alaikum salam, silahkan”. Akupun mengambil laptop tersebut karena
kuliah siang itu dengan duduk melingkar dan saya berada tepat di belakang
pintu.
Saya sudah kehilangan suara
selama 5 bulan ini, tetapi alhamdulillah sudah perlahan sembuh meski belum
pulih seperti semula. Tetapi kemarin malam sabtu, saya menjadi MC presiden di
masjid agung dalam acara harlah PMII dan alhamdulillah suara saya bisa keluar.
Krika saya sudah kembali kerumah, suara sayapun kembali serak. Besok tanggal 24
ada acara dokter bedah, tanggal 25 menjadi MC manten, ya Wallahu A’lam.
“Kriiikkkkkkk” .. Suara pintu terbuka,
sayapun berdiri menutupnya, dari jendela pintu terlihat laki-laki berjaket
abu-abu dan berkemeja merah melihat ke arah kelas saya. Itu Prof Ali? Ngapain?
“Tanya mereka dengan herannya”, bukan, ini Pak Addin presenter terkenal,
“Jawabku kepada mereka”. Pak Prof mana? “Tambahnya kepadaku”, tadi turun ke
bawah, “Ungkapku”.
Kita harus pandai mensiasati
karakter microfone, kita harus tau jarak antara mulut dengan microfone. Kita
harus mempunyai kepekaan yang tinggi. Ketika microfone terlalu dekat, maka
pendengar tidak akan dapat mendengar suara kita dengan baik. Kita sebagai calon
presenter harus mengetahui hal itu supaya modulasi suara dapat keluar dengan
enak. Saya sedang mengadakan seleksi calon presenter untuk bulan ramadhan
nanti. Nah sayang jika kita mencari presenter untuk televisi tetapi fisik juga
tidak memungkinkan. Allah sudah memberikan nikmat kepada kita, tetapi untuk
calon presenter televisi, wajah harus memenuhi syarat. Kita akan sepakat bahwa seseorang yang cacat
fisik tidak memungkinkan untuk tampil di televisi menjadi presenter apalagi
cacat itu berada di wajah, karena itu dapat menganggu konsentrasi pemirsa. Misalnya
mata yang satu sipit, satunya belo. Ketika berbicara mulutnya kesamping, maka
tidak akan di terima menjadi presenter televisi. Ketika menjadi seorang
presenter, kita harus konsisten. Ketika hari ini kita tampil maksimal, maka
besok jangan sampai kita mnurun.
Untuk anak perempuan, tidak
perlu memaksakan agar suaranya menjadi ngebas/besar. Akan tetapi bagi laki-laki
hal ini akan menjadi sangat ideal, ketika suara megah itu dapat di miliki. Jangan
sampai ada laki-lkai di televisi seorang presenter tampan, gagah, tetapi
suaranya seperti wanita. Idealnya bagi cowok memang bersuara keras, dan untuk
cewek jaga keaslian suara dan hanya saja olah dengan sebaik mungkin. Berlatihlah
pernapasan perut dengan cara menarik udara dari hidung, dan keluarkan perlahan
dari mulut. Teknik berbicara yang baik adalah yang di olah dengan sebaik
mungkin, bukan yang di buat-buat. Presenter juga harus membiasakan diri
berpakain rapi, jangan ragu untuk menatap camera. Ku toleh ke arah pintu,
karena terlihat ada seorang cewek berbaju biru memanggilku, sini Az, “ucapnya.”
Akupun permisi keluar untuk menemuinya, ada apa kak?, “tanyaku kepada cewek
berkerudung hitam itu”, tolong ya nanti kalau ketemu jaket hitam di kelas ini,
sms aku. Itu jaket kenangan SMA, aku sedih kalau kehilangan. Oke kak nanti
kalai ketemu aku sms,” jawabku untuk menenangkannya”. Makasih Azka, “ucapnya.”
Aku kembali memasuki ruang D1.211 untuk meneruskan mengikuti perkuliahan.
Bapak
bersabuk hitam tersebut menambah penjelasannya, Tak akan pernah ada dua orang
yang dapat menuturkan satu suara atau bunyi bahasa secara sama persis.
Perbedaan itu terjadi oleh beberapa hal : bahasa lokal yang berkembang di
sekitar penuturnya, lingkungan sosialnya (pendidikan, pekerjaan, atau
aktivitas) dan kelebihan atau kekurangan seseorang dalam bertutur.
Untuk mencapai
maksud kebahasaan diperlukan adanya standar penuturan. Standar itu sangat
berguna bagi masyarakat dalam hal:
- kemudahan
menuturkan, kemudahan berkomunikasi
- membedakan
setiap tuturan yang bersifat lokal
- menyesuaikan
diri.
Tidak
semua standar penuturan dapat diberlakukan di semua wilayah. Karenanya, standar
pengucapan kedaerahan akan tetap ada, sementara itu standar nasional terus
diupayakan untuk dapat semakin dapat digunakan menjadi pegangan. Berbahasa
Internasional atau berbahasa IndonesIa dengan penuturan daerah tertentu tidak
ditabukan. Namun, bagi seorang penyiar radio dan televisi atau seorang pembawa
acara (MC, Master of Ceremony) hal itu akan tidak menghasilkan komunikasi
secara cepat, baik dan benar.
Pada
diri orang per orang manusia terdapat gaya penuturan yang sifatnya sangat
Individual. Ada yang sangat kalem, sedang-sedang saja atau yang terkesan
berteriak. Ada yang sangat terdengar akrab dan lembut, tapi ada pula yang mirip
pidato formal.
Pengetahuan
yang mempelajari tuturan itu dikenal sebagai fonetik, yang intinya merupakan
pemahaman ke arah cara penuturan bunyi bahasa secara tepat, baik dan benar.
Dalam hal-hal tertentu akan dibicarakan standar-standar baku. Tetapi harus
diingat standar penuturan bukan standar gaya pengungkapan. Karena gaya
merupakan kekayaan dan pesona pribadi seseorang dalam bertutur kata. Dalam
dunia kepenyiaran dan pembawa acara hal itu merupakan keunggulan dan daya
tarik, yang secara singkat bisa disebut 'personality'.
Dapat
bertutur dengan baik menjadi syarat utama bagi seorang penyiar dan pembawa
acara. Yang menjadi pernyataan : bagaimana tuturan yang baik Itu? Dan
kebalikannya, yang jelek itu seperti apa?
Tuturan yang
baik merupakan cara berbicara seseorang yang terdengar jelas dan dapat
dimengerti bagi kebanyakan orang. Dengan begitu, maka tuturan yang sulit
dimengerti oleh khalayak merupakan tuturan yang jelek. Ketidak mengertian itu
bisa ditimbulkan oleh :
- komat-kamit
yang menghasilkan tuturan seperti omelan
- Ketidak tepatan
menyuarakan bunyi bahasa tertentu.
Tuturan
yang baik juga terkait dengan cara seseorang yang mencoba untuk merubah aksen
tuturan agar dapat dengan aksen tutur khalayaknya. Lewat pendekatan ini
biasanya seseorang penutur berhasil berkomunikasi. Tetapi, bila aksen tutur
antara pembicara dengan pendengarnya sudah sama, namun si penutur mencoba
berkomunikasi dengan perubahan-perubahan yang dipaksakan maka tuturan itu jelek
juga adanya.
Demikian
halnya dengan dialek. Secara hakiki dialek bisa bermuka dua: baik dan jelek,
tidak mudah bagi seseorang penyiar atau pembawa acara untuk tampil dengan
dialek tertentu secara tepat. Yang seringkali terdengar malah kesan lucunya.
Jadi untuk menciptakan suasana humoris dialek bisa dimanfaatkan. Dalam hal
penampilan yang formal seseorang hams benar-benar mampu bertutur dengan aneka
dialek secara benar, apabila memang khalayaknya menuntut standar penuturan
dialek tertentu.
Tuturan
alami seringkali tak sejalan dengan tuturan standar. Dalam hal sepertI ini baik
buruknya penuturan sangat bergantung kepada khalayak pendengarnya.
Selain
jelas dan dapat dimengerti, tuturan yang baik dari penyiar radio atau televisi
dan pembawa acara harus enak didengar. Karena enak tidaknya tuturan seseorang
sangat bergantung kepada modal suara yang dimilikinya, maka secara material tak
dapat diajarkan. Tambahan lagi, enak atau tidaknya penuturan bersifat
subyektif. Apa yang dikatak enak oleh seseorang bisa saja dianggap tak enak
oleh lainnya. Yang dapat dilatihkan adalah pemilihan standar penyuaraan dan
gaya penyajiannya. Penggabungan ke dua aspek ini bukan tidak mungkin akan
melahirkan tuturan yang nyaman bagi indera pendengar atau pemirsanya.
Dalam menyarakan
sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan
pada 3 persoalan :
I. Problematika Kualitas Suara
Penyiar
atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah semestinya karakter itu
merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara yang lalu terdengar
kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya sudah diketahui
maka perlu dicari jalan keluarnya.
a. Suara
parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka
penyebabnya ada 2 :
- Gejala
gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
- Pengucapan suara yang berlebih-lebihan,
misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya beberapa alat ucap menjadi
tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa yang enak. Untuk
mengatasinya diperlukan istirahat.
b.
Suara tipis
Suara tipis yang terdengar lemah biasanya
disebabkan oleh mekanisme penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan
pembiasaan penyuaraan secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat
lemahnya suara ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya
olah alat ucap mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan
menutup hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara
kuat-kuat.karena, bisa jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di
hidung.
c.
Suara pecah
Bayangkan
seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang terjadi suaranya bakal
pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa. Dan tidak bermelodi
sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik pernapasan yang benar,
penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan ditargetkan untuk kesan tertentu.
2. Problematika Penyuaraan
a. Monoton
Kegagalan
untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan tuturan yang monoton.
Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan tinggi rendahnya cara
penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis. Seringkali gaya monoton ini
akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi lain tuturan seperti ini akan
menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang cenderung monoton perlu
memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b. Miskin Nada
Beberapa
orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu ke itu juga. Kalau
tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar adalah ketidakwajaran.
Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak menghasilkan rnakna
apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan ketahuan aslinya sedikit
merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan nada dasar yang mampu disuarakannya.
c. Singsong
Gaya
ini hanya layak bagi penyiar "disc
jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi tuturan. Tempo yang
tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan bagian dari ciri
singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak bernuansa DJ, maka
sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya tuturan dengan rentang
nada yang wajar saja.
d. Pola Akhiran
Tak
sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian akhir sebuah
kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama sekali dihilangkan.
e. Menderu
Ada
penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu dengan
memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya yang
dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh saja,
tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3. Problematika Penapasan
Pemapasan yang keliru akan melahirkan
bunyi tuturan yang kurang enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan
bernapas dengan dada ketika siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi
problema :
a.
Suara berdesah napas
Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe
pastikan tak mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati
suaranya secara detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah
membentuk diri kendala seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu
tak dapat dihilangkan sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan
udara dari dada atau diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak
teratasi maka diperlukan terapi medis.
b.
Suara tanpa daya
Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan
pada otot-otot di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam
konsep tujuan penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran
(atau siapa audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan
pemapasan diafrakma untuk mengatasinya.
Sesuaikan ekspresi wajah
dengan apa yang di bicarakan. Sangat tidak etis ketika kita dalam keadaan
berduka, tetapi wajah kita tersenyum bahagia. Presenter harus memperluas sayap
keluar selama itu adalah hal yang positif, artinya presenter harus mempunyai
banyak pengalaman, wawasan, referensi darimanapun datangnta, sehingga dapat
terbentuk suatu kepercayaan ketika akan menyampaikan suatu gagasan. Gunakan
bahasa yang sederhana. Ingat gunakan tutur kata yang baik agar pendengar masuk
dalam persuasi kita dan menerima apa yang kita sampaikan. Seorang presenter
tidak boleh over confidence. Hal itu akan menghancurkan diri kita
sendiri. Inilah penjelasan dari Bapak pemakai akik biru tersebut.
Ayo sekarang kita berlatih
menjadi presenter, silahkan maju kedepan. Di awalai dari Diana Cholidah, wanita
tersebut memang banyak senyum, sehingga waktu berlatih menjadi presenterpun dia
senyum. Satu per satu di suruh memberi komentar kepada wanita berbaju biru
tersebut, mulai dari saya, Artikulasinya harus di latih lagi, “Ungkapku
kepadanya”, nah benar, tadi waktu dia salam kan saya suruh berhenti, itu karena
mulutnya kurang mengo, “Tambah bapak bersabuk hitam tersebut”. Dilanjut
komentar lain, ada yang mengatakan bahwa wanita berkulit langsat tersebut
kurang fokus, dan banyak senyum.
Selanjutnya mulai dari pojok.
Wah aku maju !! Haduhh nderedek rek, Ndak usah pakek Microfone ya? “Ucapku
kepada teman-teman”. Yaa harus pakek, “jawab mereka dengan serempak”. Okelah di
tengah aku berlatih ternyata Prof Ali memasuki ruangan itu, jantungku semakin
berdetak kencang. Selesai mencoba, bapak Addin langsung memberikan komentar
bahwa saya sudah siap, fokus, berani menatap audien, hanya saja vokal saya
kurang besar. Hahahahaha suaranya kecil seperti anaknya pak, “Teriak Hisyam
dari arah belakang”. Kemudia di lanjut
oleh Nafisatul Maulidah, Fajriyah Rahma Dewi, Baity Rahmawati, Samrotul Jannah,
ketika gadis cantik ini tampil kedepan dia terdiam di tengah-tengah berlatih.
Aku ngeblank, hii .. Aku malu ungkapnya. Kami semuapun tertawa melihat kelucuan
gadis itu. Latihanpun tidak selesai sampai disini, akan tetapi terus berlanjut
hingga satu kelas dapat mencoba menjadi seorang presenter.
Ternyata orang yang banyak
pengalaman itu hebat sekali, bisa berbagi ilmu kepada kita semua, “Gumamku
dalam lamunan.” Menorehkan pengetahuan, ibarat menghidupkan dunia yang redup.
Membiarkannya tanpa pengaplikasian ibarat dunia mati dalam genggaman. Mayoritas
orang paham dengan teori yang pernah di dapatkan, namun minimal orang
mempraktikkan dalam keseharian. Seolah semua seperti hembusan angin, sekejap
dan berlalu. Ketika angin kembali menghampiri sesuatu yang pernah di dapat akan
di ingat sedetik secepat angin yang memberikan kesejukan dalam diri seseorang. Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam
kehidupan ini. Butuh ilmu untuk menjalani hidup. Entah itu ilmu Agama atau ilmu
pengetahuan lainnya. ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu ibadah, bahkan
merupakan ibadah yang paling agung dan utama.
Era Modernisasi memberikan
perubahan signifikan terhadap perilaku dan sikap individu. Kita apresiasi
ketika tersirat suatu perubahan positif, di sisi lain hati merasa teriris
ketika yang tampak oleh kasat mata adalah hal yang negatif dan sangat bertolak
belakang dengan norma . Ketika hati memiliki kemantapan maka akan terukur
sejauh mana pengaruh keyakinan agama terhadap sikap dan tingkahlaku seseorang
(berfikir, bersikap, dan bereaksi). Sikap keagamaan merupakan
integrasi antara pengetahuan agama, perasaan serta tindak keagamaan seseorang.
Meskipun tingkah laku terbentuk karena faktor lingkungan, namun faktor individu
ikut menentukan.
Di saat mereka mengetahui
bahwa apa yang di lakukan bertentangan dengan hati nurani, mereka dengan
sendirinya akan meninggalkan hal tersebut. Dalam hatinya terdapat lentera yang
menerangi, itulah lentera keimanan. Namun, di saat kita memilih untuk tetap
melakukan hal-hal yang menyimpang berarti kita berpegang teguh pada nafsu,
meyakini yang bathil sebagai kebenaran
Setiap
orang harus memiliki sikap selektif dan analitik, mampu menggali setiap
informasi yang di dapat serta mampu menganalisis suatu hal yang akan mereka
lakukan. Semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, semakin
mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas. Namun bagi mereka yang mempunyai
pengalaman sedikit dan sempit, ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan
akan selalu dihadapkan pada hambatan. Di saat kita acuh untuk berbagi ilmu,
maka kita telah mengubur dunia dalam genggaman.
Keluar
dari ruang dengan 2 lampu yang menyala itu, aku bercanda dengan segerombolan
teman di depan. Niat melangkahkan kaki pulang menuju kos, ternyata hujan
datang. Akupun menunggu hujan reda. Ku lihat jam yang melingkar di tanganku,
tepat 16:00 Nitra, Nafis, Yunita dan saya melaksanakan sholat ashar di gedung B
fakultas Dakwah dan Komunikasi. Uuuuuhh ternyata antrian kamar mandi panjang
sekali, sehingga hal ini menguji kesabaran kita. Selesai melaksanakan sholat,
kami berempatpun kembali menuju gedung A dan segera pulang di temani gerimis.
ternyata jadi seorang presenter tidak semudah yg di bayangkan. makasih kak ilmunya.
BalasHapusboleh minta nomernya kak?
lanjutkan ukhity semangat..
BalasHapus