Sabtu, 25 April 2015

Di Balik Presenter

Selasa, 21 April 2015 ku lihat betapa semangatnya Bapak Addin Chadiri dalam menuntut ilmu, bagaimana susah payahnya perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, betapa banyak rintangan-rintangan yang di lewati. Dengan mengetahui kesungguhan dan kegigihan beliau dalam menuntut ilmu, maka sayapun sangat termotivasi. Pukul 13:00 bapak tersebut memberikan materi tentang seorang presenter, ini pertemuan kita yang kedua kalinya ya? “tanya bapak berwajah tampan tersebut”, iya pak benar sekali, “jawab mahasiswa di ruang bercat cream tersebut.
Sebenarnya media televisi membutuhkan seorang presenter yang tidak keluar dari koridor etika. Calon presenter ketika mencoba microfone jangan di tiup karena itu adalah hal yang tidak di benarkan. (Huff ... Huff ... Huff), “Suara bapak berkemeja putih memberi contoh”. Mencoba microfone yang benar  cukup di ketuk dengan tangan (tuk ... tuk ... tuk). Karena dalam microfon terdapat kain selapu tipis, jika di tiup terlalu keras akan sobek dan mempengaruhi suara microfone.
Saya membawa contoh-contoh rekaman talkshow tetapi karena Lcd tidak  bisa digunakan maka kita putar lain kali saja. Saya ingin memperlihatkan bagaimana cara menjadi presenter ataupun narasumber, dan satu lagi yang saya alami, seorang presenter harus bisa menyanyi, karena itu adalah hal yang jarang di miliki oleh seorang presenter. Loh apa perlu? apa kaitannya presenter dengan penyanyi? “ Gumamku dalam kediamanku”. Presenter dengan bernyanyi sangat erat kaitannya, kita sepakat bahwa seseorang yang bisa bernyanyi berarti mampu berucap dengan keindahan. Dia akan mengatur kata demi kata, kalimat demi kalimat, sehingga melahirkan satu lagu yang enak kita dengar.
Ada satu contoh, misalnya dalam acara inbox. Ketika sesi menebak judul lagu, lagu tersebut akan di bacakan dengan nada datar dan kita menebak judulnya kemudian kita harus menyanyikannya. Misalnya lagu: sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan (Bapak bercelana hitam memberikan contoh dengan suara yang besar), nah itu kita harus menebaknya. Ketika kita tidak mempunyai referensi, maka kita tidak akan bisa menjawab. Tetapi ketika kita mengerti, kita akan mengacungkan tangan dan menjawab bahwa judulnya: “ Sepanjang jalan kenangan,” coba anda nyanyikan: sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandengan tangan ( suara saya, Nitra dan Baity menyanyikan lagu tersebut). Nah ini adalah salah satu contoh yang simple. Kaitannya dengan presenter tadi, kalau kita tidak bernyanyi, maka kita akan berbeda dengan presenter yang bisa bernyanyi ketika perform, hal itu sudah saya rasakan. Ada teman 1 profesi dan kebetulan dia junior saya, sangat di sayangkan sekali dia tidak bernyanyi padahal dia sangat terkenal. Berbicara pastilah ada naik turunnya nada, kalau kita berbicara : saudara pemirsa, selamat pagi, selamat berjumpa lagi dengan saya ( Bapak berkaos kaki hitam memberi contoh dengan nada tanpa semangat), sontak kita semua terbahak-bahak. Itu tidak enak di dengar, berbeda ketika kita berbicara dengan nada yang baik. Orang yang mendengar akan menerima apa yang kita sampaikan.
Pesan saya, jangan ada mahasiswa dari fakultas dakwah, yang pernah menerima ilmu ini berbicara dengan “Lion Style”. misalnya: saudara pemirsa ee.. Selamat berjumpa lagi ee.. Dalam acara ee.. itu hindarkan. Cara menanggulanginya adalah dengan menarik kalimat terakhir menjadi agak panjang. Di saat itu otak kita berputar dan mulut menyiapkan apa yang akan kita ucapkan. Ketika kita memiliki kebiasaan lion style, berarti otak kita sedang tidak fokus dengan sesuatu yang akan di sampaikan. Mungkin semua yang ada disini tidak dapat berbicara dengan lancar. Entah karena gangguan pada rongga mulut, sturuktur gigi atau lain sebagainya. Oleh karena itu kita semua tidak sama. Tidak ada orang yang bertutur kata sama persis antara satu dengan yang lainnya, karena nada dan pemenggalan kata setiap orang berbeda.
Terkadang ada orang yang tidak membuka mulut, tetapi artikulasinya sangat jelas. Kalau kita sudah membuka mulut tetapi artikulasi tidak jelas, nah ini yang menjadi suatu permasalahan. Mungkin ada kendala, oleh karena itu banyaklah berlatih A-I-U-E-O, A-I-U-E-O.  Selain itu berbicaralah yang keras, kalian bisa berlatih dengan pergi ke kenjeran tetapi dengan niat yang positif, atau yang lebih bagus pergilah ke tanjung kodok. Di tengah gemuruh ombak anda membaca naskah dengan jarak 100 meter dari teman anda. Itu adalah salah satu cara untuk melonggarkan pita suara.  Ketika saya mempunyai waktu luang, saya pergi karaoke 2 jam, ini bukanlah hal yang negatif tetapi ini merupakan kebutuhan bagi saya. Disana saya bernyanyi sendiri dengan menyanyikan lagu bernada tinggi, setelah keluar dari tempat karaoke, suara sayapun serak, tetapi ketika sembuh, suara saya akan meningkat 1 oktaf. “Assalamu’alaikum, permisi pak mau mengembalikan laptop”, suara wanita bebrbaju biru dari luar ruangan memasuki kelas. “Wa alaikum salam, silahkan”. Akupun mengambil laptop tersebut karena kuliah siang itu dengan duduk melingkar dan saya berada tepat di belakang pintu.
Saya sudah kehilangan suara selama 5 bulan ini, tetapi alhamdulillah sudah perlahan sembuh meski belum pulih seperti semula. Tetapi kemarin malam sabtu, saya menjadi MC presiden di masjid agung dalam acara harlah PMII dan alhamdulillah suara saya bisa keluar. Krika saya sudah kembali kerumah, suara sayapun kembali serak. Besok tanggal 24 ada acara dokter bedah, tanggal 25 menjadi MC manten, ya Wallahu A’lam. “Kriiikkkkkkk” ..  Suara pintu terbuka, sayapun berdiri menutupnya, dari jendela pintu terlihat laki-laki berjaket abu-abu dan berkemeja merah melihat ke arah kelas saya. Itu Prof Ali? Ngapain? “Tanya mereka dengan herannya”, bukan, ini Pak Addin presenter terkenal, “Jawabku kepada mereka”. Pak Prof mana? “Tambahnya kepadaku”, tadi turun ke bawah, “Ungkapku”.
Kita harus pandai mensiasati karakter microfone, kita harus tau jarak antara mulut dengan microfone. Kita harus mempunyai kepekaan yang tinggi. Ketika microfone terlalu dekat, maka pendengar tidak akan dapat mendengar suara kita dengan baik. Kita sebagai calon presenter harus mengetahui hal itu supaya modulasi suara dapat keluar dengan enak. Saya sedang mengadakan seleksi calon presenter untuk bulan ramadhan nanti. Nah sayang jika kita mencari presenter untuk televisi tetapi fisik juga tidak memungkinkan. Allah sudah memberikan nikmat kepada kita, tetapi untuk calon presenter televisi, wajah harus memenuhi syarat.  Kita akan sepakat bahwa seseorang yang cacat fisik tidak memungkinkan untuk tampil di televisi menjadi presenter apalagi cacat itu berada di wajah, karena itu dapat menganggu konsentrasi pemirsa. Misalnya mata yang satu sipit, satunya belo. Ketika berbicara mulutnya kesamping, maka tidak akan di terima menjadi presenter televisi. Ketika menjadi seorang presenter, kita harus konsisten. Ketika hari ini kita tampil maksimal, maka besok jangan sampai kita mnurun.
Untuk anak perempuan, tidak perlu memaksakan agar suaranya menjadi ngebas/besar. Akan tetapi bagi laki-laki hal ini akan menjadi sangat ideal, ketika suara megah itu dapat di miliki. Jangan sampai ada laki-lkai di televisi seorang presenter tampan, gagah, tetapi suaranya seperti wanita. Idealnya bagi cowok memang bersuara keras, dan untuk cewek jaga keaslian suara dan hanya saja olah dengan sebaik mungkin. Berlatihlah pernapasan perut dengan cara menarik udara dari hidung, dan keluarkan perlahan dari mulut. Teknik berbicara yang baik adalah yang di olah dengan sebaik mungkin, bukan yang di buat-buat.  Presenter juga harus membiasakan diri berpakain rapi, jangan ragu untuk menatap camera. Ku toleh ke arah pintu, karena terlihat ada seorang cewek berbaju biru memanggilku, sini Az, “ucapnya.” Akupun permisi keluar untuk menemuinya, ada apa kak?, “tanyaku kepada cewek berkerudung hitam itu”, tolong ya nanti kalau ketemu jaket hitam di kelas ini, sms aku. Itu jaket kenangan SMA, aku sedih kalau kehilangan. Oke kak nanti kalai ketemu aku sms,” jawabku untuk menenangkannya”. Makasih Azka, “ucapnya.” Aku kembali memasuki ruang D1.211 untuk meneruskan mengikuti perkuliahan.
Bapak bersabuk hitam tersebut menambah penjelasannya, Tak akan pernah ada dua orang yang dapat menuturkan satu suara atau bunyi bahasa secara sama persis. Perbedaan itu terjadi oleh beberapa hal : bahasa lokal yang berkembang di sekitar penuturnya, lingkungan sosialnya (pendidikan, pekerjaan, atau aktivitas) dan kelebihan atau kekurangan seseorang dalam bertutur.
Untuk mencapai maksud kebahasaan diperlukan adanya standar penuturan. Standar itu sangat berguna bagi masyarakat dalam hal:
- kemudahan menuturkan, kemudahan berkomunikasi
- membedakan setiap tuturan yang bersifat lokal
- menyesuaikan diri.
Tidak semua standar penuturan dapat diberlakukan di semua wilayah. Karenanya, standar pengucapan kedaerahan akan tetap ada, sementara itu standar nasional terus diupayakan untuk dapat semakin dapat digunakan menjadi pegangan. Berbahasa Internasional atau berbahasa IndonesIa dengan penuturan daerah tertentu tidak ditabukan. Namun, bagi seorang penyiar radio dan televisi atau seorang pembawa acara (MC, Master of Ceremony) hal itu akan tidak menghasilkan komunikasi secara cepat, baik dan benar.
Pada diri orang per orang manusia terdapat gaya penuturan yang sifatnya sangat Individual. Ada yang sangat kalem, sedang-sedang saja atau yang terkesan berteriak. Ada yang sangat terdengar akrab dan lembut, tapi ada pula yang mirip pidato formal.
Pengetahuan yang mempelajari tuturan itu dikenal sebagai fonetik, yang intinya merupakan pemahaman ke arah cara penuturan bunyi bahasa secara tepat, baik dan benar. Dalam hal-hal tertentu akan dibicarakan standar-standar baku. Tetapi harus diingat standar penuturan bukan standar gaya pengungkapan. Karena gaya merupakan kekayaan dan pesona pribadi seseorang dalam bertutur kata. Dalam dunia kepenyiaran dan pembawa acara hal itu merupakan keunggulan dan daya tarik, yang secara singkat bisa disebut 'personality'.
Dapat bertutur dengan baik menjadi syarat utama bagi seorang penyiar dan pembawa acara. Yang menjadi pernyataan : bagaimana tuturan yang baik Itu? Dan kebalikannya, yang jelek itu seperti apa?
Tuturan yang baik merupakan cara berbicara seseorang yang terdengar jelas dan dapat dimengerti bagi kebanyakan orang. Dengan begitu, maka tuturan yang sulit dimengerti oleh khalayak merupakan tuturan yang jelek. Ketidak mengertian itu bisa ditimbulkan oleh :
- komat-kamit yang menghasilkan tuturan seperti omelan
- Ketidak tepatan menyuarakan bunyi bahasa tertentu.
Tuturan yang baik juga terkait dengan cara seseorang yang mencoba untuk merubah aksen tuturan agar dapat dengan aksen tutur khalayaknya. Lewat pendekatan ini biasanya seseorang penutur berhasil berkomunikasi. Tetapi, bila aksen tutur antara pembicara dengan pendengarnya sudah sama, namun si penutur mencoba berkomunikasi dengan perubahan-perubahan yang dipaksakan maka tuturan itu jelek juga adanya.
Demikian halnya dengan dialek. Secara hakiki dialek bisa bermuka dua: baik dan jelek, tidak mudah bagi seseorang penyiar atau pembawa acara untuk tampil dengan dialek tertentu secara tepat. Yang seringkali terdengar malah kesan lucunya. Jadi untuk menciptakan suasana humoris dialek bisa dimanfaatkan. Dalam hal penampilan yang formal seseorang hams benar-benar mampu bertutur dengan aneka dialek secara benar, apabila memang khalayaknya menuntut standar penuturan dialek tertentu.
Tuturan alami seringkali tak sejalan dengan tuturan standar. Dalam hal sepertI ini baik buruknya penuturan sangat bergantung kepada khalayak pendengarnya.
Selain jelas dan dapat dimengerti, tuturan yang baik dari penyiar radio atau televisi dan pembawa acara harus enak didengar. Karena enak tidaknya tuturan seseorang sangat bergantung kepada modal suara yang dimilikinya, maka secara material tak dapat diajarkan. Tambahan lagi, enak atau tidaknya penuturan bersifat subyektif. Apa yang dikatak enak oleh seseorang bisa saja dianggap tak enak oleh lainnya. Yang dapat dilatihkan adalah pemilihan standar penyuaraan dan gaya penyajiannya. Penggabungan ke dua aspek ini bukan tidak mungkin akan melahirkan tuturan yang nyaman bagi indera pendengar atau pemirsanya.
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
I.   Problematika Kualitas Suara
Penyiar atau pembawa acara musti berkarakter suaranya. Sudah semestinya karakter itu merupakan suara yang tetap enak didengar. Suara-suara yang lalu terdengar kurang nyaman selalu ada penyebabnya, bila saja penyebabnya sudah diketahui maka perlu dicari jalan keluarnya.
a.  Suara parau
Bila tak biasanya suara parau ini terdengar, maka penyebabnya ada 2 :
-    Gejala gangguan pada alat ucap, perlu pemeriksaan medis
-    Pengucapan suara yang berlebih-lebihan, misalnya berteriak berkepanjangan. Akibatnya beberapa alat ucap menjadi tertekan sehingga tidak menghasilkan bunyi baliasa yang enak. Untuk mengatasinya diperlukan istirahat.
b. Suara tipis
     Suara tipis yang terdengar lemah biasanya disebabkan oleh mekanisme penyuaraan yang belum benar. Cara mengatasinya dengan pembiasaan penyuaraan secara kuat (bukan berteriak) secara terus menerus. Kuat lemahnya suara ditentukan oleh pemanfaatan resonansi bunyi di mulut. Karenanya olah alat ucap mutlak diperlukan. Cobalah mengukur kelemahan suara dengan jalan menutup hidung.kuat-kuat lalu mencoba menuturkan sesuatu secara kuat-kuat.karena, bisa jadi gangguan itu terjadi pada saluran pemapasan di hidung.
c. Suara pecah
Bayangkan seseorang yang bertutur dengan amat sangat lamban. Yang terjadi suaranya bakal pecah. Bahkan seringkali terdengar tanpa kesan apa-apa. Dan tidak bermelodi sama sekali. Jalan keluarnya harus dimulai dengan teknik pernapasan yang benar, penuturan dalam tempo yang makin dipercepat dan ditargetkan untuk kesan tertentu.
2.   Problematika Penyuaraan
a.    Monoton
Kegagalan untuk merubah-rubah nada dasar tuturan akan menghasilkan tuturan yang monoton. Tak semua tangga nada harus dimanfaatkan, tetapi pilihan tinggi rendahnya cara penuturan bisa menjadikan suara terdengar dinamis. Seringkali gaya monoton ini akan cepat membosankan bagi khalayaknya. Di sisi lain tuturan seperti ini akan menyebabkan iritasi pada alat ucap. Mereka yang cenderung monoton perlu memperhatikan naik turunnya nada tuturan orang lain.
b.    Miskin Nada
Beberapa orang punya kebiasaan dengan pilihan nada dasar yang itu ke itu juga. Kalau tidak kelewat tinggi ya kelewat rendah. Yang terdengar adalah ketidakwajaran. Pada tuturan yang rendah bagian akhirnya seringkali tak menghasilkan rnakna apa-apa. Mereka yang memilih nada terlalu tinggi akan ketahuan aslinya sedikit merendah. Kuncinya justru dapat ditemukan pada pilihan nada dasar yang mampu disuarakannya.
c.    Singsong
Gaya ini hanya layak bagi penyiar "disc jockey” yang perlu menuturkan musik dengan musikalisasi tuturan. Tempo yang tinggi dan rentang nada tuturan yang beragam merupakan bagian dari ciri singsong.jika itu sudah mulai terjadi, padahal acaranya tak bernuansa DJ, maka sang penyiar atau pembawa acara musti diajak kembali ke gaya tuturan dengan rentang nada yang wajar saja.
d.    Pola Akhiran
Tak sedikit mereka yang punya pola tuturan yang sama di bagian akhir sebuah kalimat. Gaya yang akan membosankan ini perlu dikurangi atau sama sekali dihilangkan.
e.    Menderu
Ada penyiar atau pembawa acara yang menderukan bunyi tertentu dengan memanjangkannya dan dengan pilihan nada dasar yang tinggi pula. Biasanya yang dipanjangkan adalah bunyi vokal atau sengau. Mau atraktif pasti boleh saja, tetapi gaya seperti ini tak dapat dibiarkan berkepanjangan.
3.   Problematika Penapasan
       Pemapasan yang keliru akan melahirkan bunyi tuturan yang kurang enak terdengar. Mereka yang tetap mempertahankan bernapas dengan dada ketika siaran atau menjadi pembawa acara akan menghadapi problema :

a.         Suara berdesah napas

Bila desah suara itu seperti milik Marylin Monroe pastikan tak mengapa. Sebab sosoknya telah dikenal sebelum orang mencermati suaranya secara detail. Tapi bagi penyiar atau pembawa acara yang tengah membentuk diri kendala seperti itu harus diatasi. Memang bisa terjadi desah itu tak dapat dihilangkan sebagai akibat dari kekurangan alat ucap dalam melepaskan udara dari dada atau diafrakma. Kalau dengan terapi postur dan pemapasan tidak teratasi maka diperlukan terapi medis.
b.      Suara tanpa daya

Yang ini bisa diakibatkan karena kurangnya gerakan pada otot-otot di sekitar alat ucap, atau kurangnya menempatkan tuturan dalam konsep tujuan penyajiannya. Perlu penguasaan terhadap arah dan target siaran (atau siapa audiensinya) serta beraksi dengan postur yang tepat serta penerapan pemapasan diafrakma untuk mengatasinya.
Sesuaikan ekspresi wajah dengan apa yang di bicarakan. Sangat tidak etis ketika kita dalam keadaan berduka, tetapi wajah kita tersenyum bahagia. Presenter harus memperluas sayap keluar selama itu adalah hal yang positif, artinya presenter harus mempunyai banyak pengalaman, wawasan, referensi darimanapun datangnta, sehingga dapat terbentuk suatu kepercayaan ketika akan menyampaikan suatu gagasan. Gunakan bahasa yang sederhana. Ingat gunakan tutur kata yang baik agar pendengar masuk dalam persuasi kita dan menerima apa yang kita sampaikan. Seorang presenter tidak boleh over confidence. Hal itu akan menghancurkan diri kita sendiri. Inilah penjelasan dari Bapak pemakai akik biru tersebut.
Ayo sekarang kita berlatih menjadi presenter, silahkan maju kedepan. Di awalai dari Diana Cholidah, wanita tersebut memang banyak senyum, sehingga waktu berlatih menjadi presenterpun dia senyum. Satu per satu di suruh memberi komentar kepada wanita berbaju biru tersebut, mulai dari saya, Artikulasinya harus di latih lagi, “Ungkapku kepadanya”, nah benar, tadi waktu dia salam kan saya suruh berhenti, itu karena mulutnya kurang mengo, “Tambah bapak bersabuk hitam tersebut”. Dilanjut komentar lain, ada yang mengatakan bahwa wanita berkulit langsat tersebut kurang fokus, dan banyak senyum.
Selanjutnya mulai dari pojok. Wah aku maju !! Haduhh nderedek rek, Ndak usah pakek Microfone ya? “Ucapku kepada teman-teman”. Yaa harus pakek, “jawab mereka dengan serempak”. Okelah di tengah aku berlatih ternyata Prof Ali memasuki ruangan itu, jantungku semakin berdetak kencang. Selesai mencoba, bapak Addin langsung memberikan komentar bahwa saya sudah siap, fokus, berani menatap audien, hanya saja vokal saya kurang besar. Hahahahaha suaranya kecil seperti anaknya pak, “Teriak Hisyam dari arah belakang”.  Kemudia di lanjut oleh Nafisatul Maulidah, Fajriyah Rahma Dewi, Baity Rahmawati, Samrotul Jannah, ketika gadis cantik ini tampil kedepan dia terdiam di tengah-tengah berlatih. Aku ngeblank, hii .. Aku malu ungkapnya. Kami semuapun tertawa melihat kelucuan gadis itu. Latihanpun tidak selesai sampai disini, akan tetapi terus berlanjut hingga satu kelas dapat mencoba menjadi seorang presenter.
Ternyata orang yang banyak pengalaman itu hebat sekali, bisa berbagi ilmu kepada kita semua, “Gumamku dalam lamunan.” Menorehkan pengetahuan, ibarat menghidupkan dunia yang redup. Membiarkannya tanpa pengaplikasian ibarat dunia mati dalam genggaman. Mayoritas orang paham dengan teori yang pernah di dapatkan, namun minimal orang mempraktikkan dalam keseharian. Seolah semua seperti hembusan angin, sekejap dan berlalu. Ketika angin kembali menghampiri sesuatu yang pernah di dapat akan di ingat sedetik secepat angin yang memberikan kesejukan dalam diri seseorang.  Ilmu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Butuh ilmu untuk menjalani hidup. Entah itu ilmu Agama atau ilmu pengetahuan lainnya. ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan utama.
Era Modernisasi memberikan perubahan signifikan terhadap perilaku dan sikap individu. Kita apresiasi ketika tersirat suatu perubahan positif, di sisi lain hati merasa teriris ketika yang tampak oleh kasat mata adalah hal yang negatif dan sangat bertolak belakang dengan norma . Ketika hati memiliki kemantapan maka akan terukur sejauh mana pengaruh keyakinan agama terhadap sikap dan tingkahlaku seseorang (berfikir, bersikap, dan bereaksi). Sikap  keagamaan merupakan integrasi antara pengetahuan agama, perasaan serta tindak keagamaan seseorang. Meskipun tingkah laku terbentuk karena faktor lingkungan, namun faktor individu ikut menentukan.
Di saat mereka mengetahui bahwa apa yang di lakukan bertentangan dengan hati nurani, mereka dengan sendirinya akan meninggalkan hal tersebut. Dalam hatinya terdapat lentera yang menerangi, itulah lentera keimanan. Namun, di saat kita memilih untuk tetap melakukan hal-hal yang menyimpang berarti kita berpegang teguh pada nafsu, meyakini yang bathil sebagai kebenaran
Setiap orang harus memiliki sikap selektif dan analitik, mampu menggali setiap informasi yang di dapat serta mampu menganalisis suatu hal yang akan mereka lakukan. Semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas. Namun bagi mereka yang mempunyai pengalaman sedikit dan sempit, ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan akan selalu dihadapkan pada hambatan. Di saat kita acuh untuk berbagi ilmu, maka kita telah mengubur dunia dalam genggaman.

Keluar dari ruang dengan 2 lampu yang menyala itu, aku bercanda dengan segerombolan teman di depan. Niat melangkahkan kaki pulang menuju kos, ternyata hujan datang. Akupun menunggu hujan reda. Ku lihat jam yang melingkar di tanganku, tepat 16:00 Nitra, Nafis, Yunita dan saya melaksanakan sholat ashar di gedung B fakultas Dakwah dan Komunikasi. Uuuuuhh ternyata antrian kamar mandi panjang sekali, sehingga hal ini menguji kesabaran kita. Selesai melaksanakan sholat, kami berempatpun kembali menuju gedung A dan segera pulang di temani gerimis.

2 komentar:

  1. ternyata jadi seorang presenter tidak semudah yg di bayangkan. makasih kak ilmunya.
    boleh minta nomernya kak?

    BalasHapus
  2. lanjutkan ukhity semangat..

    BalasHapus